Gokil! Astronom Temukan Badai Seukuran Bumi di Neptunus

Dini Listiyani, Jurnalis · Senin 07 Agustus 2017 02:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 05 56 1750406 gokil-astronom-temukan-badai-seukuran-bumi-di-neptunus-xmNPTBrB5E.jpg (Foto: de Pater)

CALIFORNIA - Astronom telah mengamati badai raksasa di Neptunus yang sangat besar sehingga menutupi area seukuran Bumi saat menguji teleskop di Hawaii.

Badai besar itu panjangnya sekira 9.000 kilometer atau sepertiga ukuran radius Neptunus. Bahkan, badai itu membentang setidaknya 30 derajat di garis lintang dan bujur, dan terlihat saat uji coba fajar observatorium Hawaii.

Tes ini dirancang untuk menguji apakah teleskop masih bisa memberikan informasi yang berguna selama senja. Secara tradisional, para astronom menunggu hingga gelap untuk memulai pengamatan.

"Melihat badai yang terang seperti lintang yang sangat rendah ini sangat mengejutkan," kata Ned Molter, seorang mahasiswa pascasarjana astronomi UC Berkeley, yang melihat kompleks badai di dekat khatulistiwa Neptunus ketika uji coba fajar senja yang diamati di M.Keck Observatory.

"Biasanya, daerah ini benar-benar sepi dan kita hanya melihat awan terang di band-band mid-lintang, jadi memiliki awan yang begitu besar yang duduk tepat di khatulistiwa sangat spektakuler," lanjutnya.

(Baca juga: Nih Penjelasan soal Asteroid Trojan Bagian dari Planet Mars)

Sistem badai besar ini ditemukan di wilayah yang tak ada awan terang yang pernah ada sebelumnya. Peneliti mengamati bahwa awan itu kian cerah antara 26 Juni hingga 2 Juli.

"Secara historis, awan yang sangat terang terkadang terlihat di Neptunus, tapi biasania di garis lintang lebih dekat ke kutub, sekira 15 hingga 60 derajat ke Utara atau Selatan," kata Imke de Pater, seorang profesor astronom UC Berkeley dan penasihat Molter.

"Belum pernah ada awan yang pernah terlihat di atau dekat dengan khatulistiwa dan juga tak pernah ada yang cerah ini," lanjutnya seperti dikutip dari Daily Mail, Senin (7/8/2017).

Pada awalnya, de Pater mengira itu merupakan Northern Cloud Complex yang sama dilihat oleh Hubble Space Telescope pada 1994, setelah Great Dark Spot yang ikonik telah hilang.

Akan tetapi, de Pater mengatakan pengukuran lokalnya tak sesuai, menandakan bahwa kompleks awan ini berbeda dengan yang pertama kali Hubble lihat lebih dari dua dekade yang lalu.

Sistem pusaran besar dan bertekanan tinggi yang berlabuh jauh di dalam atmosfer Neptunus mungkin merupakan apa yang menyebabkan awan kolosal itu tertutup. Saat gas naik di pusaran, mereka mendingin.

Ketika suhu turun di bawah suhu kondensasi gas yang bisa dikondensasi, gas tersebut mengembun keluar dan membentuk awan seperti air di Bumi. Di Neptunus kita mengharapkan terbentuknya awan metana.

Sama halnya dengan setiap planet, awan di atmosfer Neptunus sangat bervariasi secara drastis dengan garis lintang, jadi jika ada sistem awan terang besar yang membentang di banyak garis lintang, ada sesuatu yang harus menahannya, seperti pusaran gelap. Jika tidak, awan akan terlepas.

"Pusaran besar ini duduk di wilayah di mana udara, secara keseluruhan mereda dibandingkan naik," kata de Pater.

(Baca juga: Keren, Pesawat NASA Ungkap Rahasia Menakjubkan dari Mars)

Selain itu, vortex tahan lama di khatulistiwa akan sulit dijelaskan secara fisik. Jika tak terikat pada pusaran, mungkin merupakan awan konvektif yang besar, serupa dengan yang terlihat sesekali di planet ini seperti badai besar di Saturnus yang terdeteksi pada 2010.

"Ini menunjukkan bahwa ada perubahan drastis dalam dinamika atmosfer Neptunus dan mungkin ini merupakan peristiwa cuaca musiman yang bisa terjadi setiap beberapa dekade sekali," kata de Pater.

(din)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini