Anak yang Sering Bermain Internet Bisa Selamatkan Negara, Kok Bisa?

Afriani Susanti , Jurnalis · Kamis 10 Agustus 2017, 20:43 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 10 326 1753615 anak-yang-sering-bermain-internet-bisa-selamatkan-negara-kok-bisa-m7QdNj5cPl.jpg Foto: Dok. News Sky

INGGRIS – Banyak anak-anak di zaman modern seperti ini yang lebih tertarik untuk menghabiskan waktu mereka di depan layar gadget. Apalagi jika bukan untuk surfing di internet, baik itu untuk bermain game maupun membuka berbagai website yang tersedia.

Dinukil dari laman News Sky, mantan Head of Goverment Communications Headquarters, Robert Hanningan, mengatakan bahwa orangtua seharusnya bisa mendorong anak-anak untuk menghabiskan banyak waktu pada online. Dengan begitu mereka bisa menyelamatkan negara.

Baca juga: Tawarkan Petualangan Baru, Far Cry 5 Bakal Dipamerkan di Gamescom 2017

Inggris menjadi negara yang tertinggal dari negara-negara lainnya, dalam hal kemampuan siber. Selain itu, negara ini juga memiliki insinyur dan ilmuwan komputer dengan jumlah yang terbilang sedikit.

“Asumsinya banyak yang berpendapat waktu yang dihabiskan untuk online atau di depan layar hanya membuang waktu,” ungkapnya seperti dinukil dari laman News Sky.

Hanningan mengatakan bahwa game dan media sosial bisa menjadi lebih ramah. “Ramah sebagai ‘mencuri’ sesuatu yang ada di sekeliling grup,” ujarnya.

Selain itu, jika memang banyak anak-anak tidak menghabiskan waktu mereka secara proposional selama liburan untuk mengakses online maupun perangkat digital lainnya, maka janganlah berputus asa.

Baca juga: Seru! Games ‘Carmageddon:Crashers’ Telah Hadir di Android dan iOS

“Kami membutuhkan anak-anak muda yang bisa mengeksplor dunia digital, sebagaimana mereka mengeksplor dunia mereka yang nyata seperti sekarang ini,” ucapnya. “Kami juga khawatir jika terlalu overprotektif, maka anak-anak muda ini justru akan keluar dari rumah. Padahal kami memiliki debat yang sama mengenai keseimbangan antara dunia internet,” tuturnya.

Hanningan juga memperingati negara-negara yang kurang akan kemampuan sibernya. Kemampuan tersebut saat ini begitu dibutuhkan dalam 20 tahun ke depan.

“Metode tradisional yang saat ini ada tidak bisa memecahkan hal ini. Karena saat ini ada banyak ilmuan dan insinyur, namun jumlah tersebut belumlah cukup,” ujarnya.

Hanningan menambahkan kehadiran anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital seperti ini justru menjadi seorang pembelajar yang baik. Karena mereka melakukan pembelajaran dengan melihat dan melakukannya secara online. (afr)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini