Waduh! Investor Gugat Travis Kalanick Lengser dari Dewan Uber

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 11 Agustus 2017, 10:17 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 11 207 1753874 waduh-investor-gugat-travis-kalanick-lengser-dari-dewan-uber-TGdJiVFBov.jpg (Foto: Reuters)

SAN FRANCISCO – Masalah yang menerpa Travis Kalanick rupanya belum berhenti. Bukannya mereda, mantan Chief Executive Officer Uber tersebut kini malah digugat oleh perusahaan modal ventura Benchmark Capital.

Menurut tuntutan hukum yang dilayangkan, Benchmark Capital menggugat Kalanick untuk memaksanya keluar dari dewan perusahaan Uber dan membatalkan upayanya untuk mengisi tiga kursi dewan.

Gugatan yang diajukan pada Kamis 10 Agustus 2017 waktu setempat itu menuduh Kalanick menyembunyikan berbagai kesalahan dari dewan direksi dan ia merencanakan untuk mempertahankan kekuasaannya di Uber, bahkan setelah dipaksa lengser sebagai Chief Executive Uber pada Juni, menyusul serangkaian skandal yang menerpa perusahaan.

Baca: Ditekan Banyak Investor, CEO Uber Resign

Sementara itu, hingga saat ini Uber masih mencari kandidat pengganti Kalanick untuk memimpin perusahaan.

Tuntutan Benchmark menandai sebuah contoh langka dari investor Silicon Valley yang menuntut seorang tokoh sentral di startup-nya sendiri. Perusahaan patungan itu merupakan investor awal di Uber. Dalam tuntutannya, Benchmark mengatakan memiliki 13% saham Uber dan menguasai 20% hak suara.

Kalanick pun berkomentar terkait gugatan tersebut dalam sebuah penyataan. “Sama sekali tak patut dan penuh dengan kebohongan juga tuduhan palsu,” kata Kalanick.

Ia menuduh Benchmark bertindak atas kepentingannya sendiri yang bertentangan dengan kepentingan Uber, serta mencela tindakan hukum yang ditempuh Benchmark sebagai upaya transparan untuk mencabut hak Travis Kalanick sebagai pendiri dan pemegang saham perusahaannya.

Sayangnya, baik Uber maupun Benchmark Capital menolak untuk memberikan komentar.

Baca juga: Minta Travis Kalanick Kembali, Karyawan Uber Bikin Petisi

Proses pengadilan yang diajukan di pengadilan Delaware membuka babak baru dalam kisah menyedihkan Uber yang membuat masa depannya seolah memburuk. Sejatinya, Uber merupakan startup paling berharga di dunia, senilai USD68 miliar.

Tuntutan hukum Bencmark meminta sebuah kebijakan untuk memblokir hak Kalanick menunjuk direksi baru, dengan menyatakan bahwa dia telah setuju untuk menyerahkan hak-hak tersebut saat mengundurkan diri sebagai CEO.

Menurut seorang investor Uber, peran Kalanick yang masih memiliki kendali di Uber telah mempersulit perusahaan untuk mencari CEO baru dan membuat beberapa kandidat baik merasa segan.

Kepala Operasi Uber, Ryan Graves, yang sekaligus salah satu karyawan pertama dan kawan lama Kalanick mengumumkan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari Uber dan memusatkan perhatian pada perannya sebagai direktur dewan.

Baca juga: Waduh! Masih Pemegang Saham, Travis Kalanick Bernafsu Tetap Kendalikan Uber

Dalam tuntutan hukumnya, Benchmark mengemukakan bahwa Kalanick menyadari masalah itu saat dewan Uber pada 2016 setuju untuk memperluas jumlah voting direktur dari delapan menjadi 11. Saat itu, Kalanick memiliki hak tunggal untuk menunjuk kursi tersebut.

Benchmark, yang memegang salah satu kursi di dewan Uber mengatakan dalam gugatannya bahwa tak akan ada yang memberi Kalanick tiga kursi tambahan jika mengetahui kesalahannya di Uber. Kalanick menunjuk dirinya ke salah satu kursi setelah digulingkan dari jabatan CEO, dan dua lainnya tetap kosong.

Menurut Erik Gordon, pakar teknologi dan kewirausahaan di Ross School of Business Universitas Michigan, ini kemungkinan menjadi kasus yang sulit bagi Benchmark untuk menang.

“Bahkan jika Anda berasumsi bahwa Kalanick bersikap tak benar, di mana peran Benchmark saat ia begitu?” kata Gordon.

Baca juga: Pendiri Uber Tegaskan Travis Kalanick Tak Akan Kembali Jadi CEO, Kenapa?

http://techno.okezone.com/read/2017/08/08/207/1751712/pendiri-uber-tegaskan-travis-kalanick-tak-akan-kembali-jadi-ceo-kenapa

"Jika saya harus membela Kalanick, saya akan bertanya, apakah Benchmark berjuang gigih terhadap tindakan Kalanick, atau apakah mereka bersedia bertahan selama penilaian perusahaan, dan nilai investasinya di dalamnya melejit?" terang Gordon.

Sementara itu, Lawrence Hamermesh, seorang ahli hukum perusahaan Delaware di Widener University Delaware Law School, mengatakan bahwa sebagai direktur perusahaan, Kalanick akan diminta untuk mengungkapkan apa yang dirinya ketahui tentang para pemegang saham sebelum dirinya memberikan suara. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (11/8/2017). (Lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini