Techno of The Week: Wah! Ada 2 Fenomena Alam Menakjubkan di Langit Pekan Ini

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Minggu 13 Agustus 2017, 09:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 11 56 1754484 techno-of-the-week-wah-ada-2-fenomena-alam-menakjubkan-di-langit-pekan-ini-0Y7ae7A18C.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Beberapa fenomena alam di langit bisa disaksikan pada pekan ini. Pertama, Gerhana Bulan yang terjadi pada 7-8 Agustus 2017. Gerhana Bulan adalah peristiwa ketika terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan.

Peristiwa yang merupakan salah satu akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama dan dapat diprediksi sebelumnya.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjelaskan, gerhana bulan sebagian terjadi pada Senin (7/8/2017) yakni dimulai pada pukul 22.48 waktu Indonesia bagian barat (WIB), 23.48 waktu Indonesia bagian tengah (WITA), dan 00.48 waktu Indonesia bagian timur (WIT).

Sementara puncaknya dapat dilihat pada Selasa 8 Agustus pukul 01.20 WIB, 02.20 WITA, dan 03.20 WIT. Gerhana tersebut berakhir pada pukul 03.52 WIB, 04.52 WITA, dan 05.52 WIT. Secara keseluruhan, dari fase dimulainya gerhana hingga berakhirnya fenomena tersebut berlangsung selama 5 jam 4,9 menit.

Pengamatan di bagian barat, dapat melihat secara utuh proses terjadinya gerhana bulan sebagian. Sedangkan di bagian timur bisa mengamati fase gerhana penumbra yang sedang berlangsung. Gerhana ini dapat diamati di Samudra Pasifik serta bagian Timur Asia dan Australia saat bulan terbenam.

Setelah terjadinya gerhana bulan sebagian, BMKG juga memprediksi adanya fenomena tata surya lainnya yang terjadi pada 21 Agustus 2017. Pada saat itu, BMKG memprediksi akan terjadinya gerhana matahari total. Sayangnya, fenomena tersebut tak dapat diamati dari wilayah Indonesia.

Hujan Meteor

Fenomena alam lainnya yang cukup menarik untuk disaksikan ialah hujan meteor perseid pada 12-13 Agustus 2017. Fenomena ini muncul setiap tahun, di mana Bumi melewati awan debu dan batu yang ditinggalkan oleh Komet Swift-Tuttle.

Komet Swift-Tuttle (yang secara formal ditunjuk 109P / Swift-Tuttle) adalah komet periodik dengan periode orbit (osculating) arus 133 tahun. Komet Swift-Tuttle terlihat terakhir kali di atmosfer Bumi pada 1992 dan diperkirakan akan melintas lagi pada 2125.

Saat jejak debu komet yang menghantam atmosfer Bumi, akan terlihat cahaya spektakuler seperti bintang jatuh. Ekor meteor tersebut nantinya diperkirakan akan mengarah pada belahan Bumi utara Perseus, itulah sebabnya acara meteor jatuh tersebut diberi nama meteor Perseid.

Perseid sendiri merupakan suatu rasi bintang di belahan utara, melambangkan pahlawan Yunani Kuno yang melawan Medusa. Rasi ini adalah salah satu rasi dari 48 rasi bintang Ptolemy dan juga satu dari 88 rasi bintang modern.

Meskipun bukan satu-satunya pertunjukan di kota, Perseid biasanya dianggap sebagai yang terbaik. Sebagian besar pengamat langit bisa melihat sekira 80 meteor per jam di seluruh langit.

Fenomena tahun lalu, terdapat sekira 200 meteor per jam yang menerangi langit berkat Jupiter yang menarik jejak debu komet. Tidak perlu mengeluarkan teleskop atau teropong, Anda cukup berbaring di taman yang luas untuk menikmati pemandangan indah tersebut.

“Puncak Perseid diperkirakan terjadi sekira 1 siang EDT (22.00 WIB) pada 12 Agustus tahun ini, yang berada di tengah hari," ungkap ahli asteroid NASA Bill Cooke.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini