Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

HARI MERDEKA: Ciptakan Teori 'Crack', Pesawat Kukuh BJ Habibie Jadi Manusia Multidimensional

Tachta Citra Elfira, Jurnalis · Kamis 17 Agustus 2017 16:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 08 17 207 1757824 hari-merdeka-ciptakan-teori-crack-pesawat-kukuh-bj-habibie-jadi-manusia-multidimensional-Ch0vlnDpYo.jpg Foto : ANTARA

JAKARTA – Berbagai teori-teorinya muncul untuk melakukan inovasi terhadap teknologi di masa depan. Mr Crack, begitulah sebutan untuk Bacharuddin Jusuf Habibie atau yang lebih dikenal dengan BJ Habibie.

Sebuah majalah Teknologi terbitan Jakarta kala itu juga menyebut BJ Habibie sebagai ‘Manusia Multidimensional’. Ternyata julukan ini sangat disukai oleh Habibie. Terlebih, julukan itu muncul tak berselang lama setelah ia meraih medali penghargaan ‘Theodore van Karman’.

Ya, anugrah bergensi tersebut berada di tingkat internasional tempat di mana berkumpulnya pakar-pakar terkemuka konstruksi pesawat terbang.

Dikenal sebagai Mr Crack, sebab ia mampu menghitung crack propagation on random hingga ke atom-atom pesawat terbang. Teori ini tentunya dapat membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah juga murah.

Di dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, para ahli dirgantara mengenal apa yang disebut Teori Habibie, Faktor Habibie dan Fungsi Habibie.

Faktor Habibie juga ternyata bisa berperan dalam pengembangan teknologi penggabungan bagian per bagian kerangka pesawat. Sehingga sambungan badan pesawat yang silinder dengan sisi sayap yang oval mampu menahan tekanan udara saat tubuh pesawat lepas landas. Begitu pula dengan landing gear yang akan jauh lebih kokoh, sehingga mampu menahan beban saat pesawat mendarat.

Namun, kita telisik sedikit mengenai terjadinya teori-teori yang Habibie ciptakan untuk membuat pesawat menjadi transportasi pilihan yang aman bagi masyarakat.

Pada awal 1960-an, musibah pesawat terbang masih sering terjadi karena kerusakan konstruksi yang tak terdeteksi kelelahan pada bodi pesawat yang masih sangat sulit terdeteksi dengan keterbatasan perkakas.

Saat itu, belum ada pemindai dengan sensor laser yang didukung unit pengolah data komputer untuk mengatasi persoalan rawan tersebut. Titik rawan kelelahan ini biasanya pada sambungan antara sayap dan badan pesawat atau antara sayap dan dudukan mesin.

Ketika menyentuh landasan, bagian ini pula yang menanggung empasan tubuh pesawat. Kelelahan logam pun terjadi, dan itulah awal dari keretakan atau crack. Kalau tidak terdeteksi, taruhannya jelas harga mahal, karena sayap bisa sontak patah saat pesawat tinggal lepas landas.

Habibie yang menemukan bagaimana rambatan titik crack itu bekerja. Perhitungannya sungguh rinci, sampai pada hitungan atomnya. Namun sebelum titik crack bisa dideteksi secara dini, para insinyur mengantispasi kemungkinan muncul keretakan konstruksi dengan cara meninggikan faktor keselamatannya (SF). Caranya, meningkatkan kekuatan bahan konstruksi jauh di atas angka kebutuhan teoritisnya.

Akibatnya, material yang diperlukan lebih berat. Untuk pesawat terbang, material aluminium dikombinasikan dengan baja. Namun setelah titik crack bisa dihitung maka derajat SF bisa diturunkan. Misalnya dengan memilih campuran material sayap dan badan pesawat yang lebih ringan. Porsi baja dikurangi, aluminium makin dominan dalam bodi pesawat terbang. Dalam dunia penerbangan, terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie.

Faktor Habibie bisa meringankan operating empty weight (bobot pesawat tanpa berat penumpang dan bahan bakar) hingga 10 persen dari bobot sebelumnya. Bahkan angka penurunan ini bisa mencapai 25 persen setelah Habibie menyusupkan material komposit ke dalam tubuh pesawat.

Pengurangan berat ini tak membuat maksimum take off weight-nya (total bobot pesawat ditambah penumpang dan bahan bakar) ikut merosot. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh. Sehingga secara ekonomi, kinerja pesawat bisa ditingkatkan.

Kejeniusan mantan Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) itu membuat dirinya memegang banyak hak paten atas temuannya di bidang konstruksi pesawat terbang. Sehingga tentu saja menjamin hidupnya rutin memperoleh royalti.

Bukan sekadar itu, dalam disiplin ekonomi makro yang dikenal dengan istilah Habibienomics, semacam pemahaman yang menegaskan bagaimana gagasan Habibie tentang pemberian nilai tambah ekonomi tinggi di setiap produksi barang dan jasa melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini