Share

Techno of The Week: Ini Lho Risiko Astronot saat Berada di Luar Angkasa

Sabtu 19 Agustus 2017 08:04 WIB
https: img.okezone.com content 2017 08 18 56 1758628 techno-of-the-week-ini-lho-risiko-astronot-saat-berada-di-luar-angkasa-nwfvLGxgz5.jpg (Foto: NASA)

JAKARTA - Menjadi astronot mungkin bukan pekerjaan yang mudah. Pasalnya, banyak hal yang bisa terjadi selama misi luar angkasa yang diembannya.

Di luar medan magnet pelindung Bumi dan atmosfernya, radiasi ion di luar angkasa akan menimbulkan risiko serius bagi astronot saat melakukan perjalanan ke Mars.

Sinar kosmik galaksi berenergi tinggi (GCR) yang merupakan sisa-sisa supernova dan badai matahari seperti peristiwa partikel matahari (SPE) dan semburan massa koroner (CME) dari sinar matahari dapat menyebabkan kerusakan pada tubuh dan pesawat ruang angkasa. Ini semua merupakan komponen cuaca antariksa.

Saat astronot melakukan perjalanan di luar angkasa, mereka tak akan mampu melihat atau bahkan merasakan radiasi. Namun, Program Riset Manusia (HRP) NASA mempelajari efek radiasi yang mengenai tubuh manusia dan mengembangkan cara untuk memantau serta melindungi dari bahayanya.

“Dosimeter dan teknik pemodelan digunakan untuk menentukan berapa banyak energi yang tersimpan di badan penjelajah luar angkasa bersama dengan alat inflight untuk memperkirakan jenis efek biologis yang mungkin mereka alami," kata Tony Slaba, Ph.D., fisikawan penelitian NASA.

“Badai matahari dapat menyebabkan penyakit radiasi akut selama penerbangan luar angkasa yang harus ditangani secara real time. Ada juga risiko tambahan terkena paparan GCR yang dapat menyebabkan efek sistem saraf pusat dan efek tertunda terkait kanker dan penyakit kardiovaskular setelah misi berlangsung,” terangnya.

Strategi perlindungan untuk GCR tetap sulit karena energi mereka yang sangat tinggi. Tindakan pencegahan farmasi kemungkinan lebih efektif dibanding perlindungan yang sering dilakukan untuk melindungi awak pesawat dari GCR. NASA juga sedang mengembangkan alat prakira cuaca di luar angkasa untuk memberikan peringatan dini SPE.

HRP melakukan berbagai penelitian untuk mengidentifikasi dan memvalidasi tindakan pencegahan biologi untuk perlindungan di luar angkasa. HRP meneliti berbagai berbagai strategi perlindungan yang mencakup cara untuk mengurangi keterpaparan dari segala bentuk cuaca luar angkasa.

Skenario cuaca luar angkasa terburuk dan terbaik digunakan untuk menjalankan desain. Desain habitat dan pengoptimalan kendaraan secara keseluruhan tengah diselidiki untuk mengurangi risiko inflight dari badai matahari.

Strategi desain ini, ditambah dengan penelitian manusia tentang efek biologis radiasi ruang angkasa, yang akan memungkinkan astronot untuk melakukan perjalanan jauh dari Bumi dibanding sebelumnya.

Saat NASA memulai perjalanan besar berikutnya untuk mengirim manusia ke Mars, amat penting untuk melindungi para astronot melawan bahaya ruang angkasa. Dengan menerapkan metode dan teknologi terbaik melawan radiasi jahat ruang angkasa, perjalanan astronot mungkin tidak lebih cepat dibanding sebelumnya.

Meski begitu, mereka akan lebih aman dalam melangsungkan misi ke luar angkasa yang berguna bagi ilmu pengetahuan manusia. Demikian seperti dilansir Phys.

(din)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini