Wow! Demi Mirip dengan Manusia, Robot Ini Manfaatkan Kain Sutra

Tachta Citra Elfira, Jurnalis · Rabu 23 Agustus 2017 09:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 08 23 56 1761132 wow-demi-mirip-dengan-manusia-robot-ini-manfaatkan-kain-sutra-pQvMiooUrJ.jpeg

JAKARTA – Sebuah penelitian dilakukan kepada robot dengan menggunakan ulat yang menghasilkan kain sutra. Peneliti dari Universitas Tsinghua di China beralih ke sensor berbasis sutra untuk membuat sensor tubuh dan sistem pemantauan.

Melansir IBTimes , Rabu (23/8/2017), sistem tersebut diklaim dapat beroperasi lebih sensitif dan fleksibel. Teknologi ini juga bisa digunakan untuk membuat robot lebih sensitif terhadap sentuhan dan suhu.

Sutra adalah serat alami dan telah dianggap sebagai salah satu kain yang didambakan di dunia. Kain ini lebih kuat dari baja dan lebih kuat juga lebih fleksibel dibanding nylon.

"Sutra adalah bahan ideal untuk sensor fabrikasi yang dipakai di tubuh," ujar Dr Yingying Zhang, seorang peneliti dari tim tersebut.

Dr. Zhang menginginkan bagaimana sensor ini bisa membuat robot lebih sensitif pada sentuhan, yang jauh lebih realistis dan juga mereka dapat merasakan suhu pasien, kelembaban, bahkan merasakan perbedaan suara orang.

Salah satu kegunaan yang tim lihat sekarang, adalah pemantauan jarak jauh pasien. Zhang menambahkan bahwa sensor sutra akan membantu dokter melacak pasien melalui sistem nirkabel terpadu dan waktu responnya bisa jauh lebih cepat.

Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa Dr. Zhang menyarankan bagaimana sensor ini suatu hari bisa membuat robot sensitif sentuhan yang jauh lebih realistis dengan mereka yang dapat "merasakan" suhu, kelembaban, dan bahkan merasakan perbedaan suara orang.

Salah satu kegunaan yang tim lihat sekarang adalah pemantauan jarak jauh pasien. Zhang menambahkan bahwa sensor sutra akan membantu dokter melacak pasien melalui sistem nirkabel terpadu dan waktu responnya bisa jauh lebih cepat.

Hingga kini, sensor yang ditempatkan pada bodi manusia dibuat dengan semikonduktor. Meskipun terbukti bermanfaat, mereka memiliki keterbatasan lain. Menurut laporan tersebut, sensor regangan yakni yang mengukur perubahan yang terjadi, tidak dapat dipercaya sensitif dan mudah diatur pada saat yang bersamaan.

Para periset mengungkapkan, bahwa sutra bisa dimanfaatkan untuk menghindari masalah ini. Sutra juga memiliki keunggulan menjadi bio-compatible sekaligus bahan yang ringan. Semua kualitas ini, menurut peneliti, menjadikannya calon ideal untuk membuat sensor.

Namun, membuat sensor dari sutra menghadirkan tantangan besar bagi para peneliti, karena sutra bukan konduktor listrik yang sangat baik, hanya kualitas yang diperlukan untuk membuat sensor bekerja.

Dr Zhang dan timnya menggunakan dua metode yang berbeda untuk memecahkan masalah ini. Pertama, mereka mengklaim telah merawat serat sutera di lingkungan inert pada suhu tinggi mulai dari 1.112 derajat sampai 5.432 derajat Fahrenheit.

Hal ini menyebabkan sutera memiliki karbon N dengan partikel grafit, sehingga membuatnya bersifat elektrik.

Pendekatan kedua, melibatkan tim yang memberi makan graphene atau nanotube karbon ke ulat sutera yang diharapkan partikel-partikel ini digabungkan dengan sutra. Sementara mereka mengatakan bahwa hal itu mengakibatkan beberapa graphene mencapai sutra, mereka harus membuat sutera konduktif dengan cara ini. Mereka dilaporkan masih mengerjakan teknik tersebut.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini