Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kembangkan Taksi Terbang, Startup di Paris Tuai Kontroversi

Tachta Citra Elfira, Jurnalis · Jum'at 25 Agustus 2017 08:30 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 08 25 207 1762670 kembangkan-taksi-terbang-startup-di-paris-tuai-kontroversi-vLmxBZC4P7.jpg Foto: Reuters

MARSEILLE - Sebuah startup di kota Paris yakni Alain Thebault akan menyediakan unit taksi terbang pada 2009. Kini dengan ambisinya, ia ingin mengubah desain kapal yang digunakan untuk memecahkan rekor sebagai kapal tercepat di dunia.

Melansir Reuters, Jumat (25/8/2017), tak hanya itu, startup tersebut juga ingin menjadi layanan taksi yang bersih dan cepat untuk jalur air di kota-kota besar.

Dijuluki SeaBubble, kapal tersebut mendapat dukungan juga dari sejumlah investor swasta. Thebault mengharapkan untuk menaikkan tarif para investor antara 50 sampai 100 juta euro pada akhir September 2017.

Emmanuel Macron, selaku Presiden pro-bisnis Prancis yang ingin menciptakan 'negara startup', bahkan ia juga memperjuangkan gagasan itu saat dia menjabat sebagai menteri ekonomi. Sayangnya, tak ada yang tahu apakah dia masih mendukung proyek itu.

Tapi kini, SeaBubble menghadapi rintangan peraturan tertentu, misalnya mendapatkan izin dari pihak berwenang Paris untuk menaikkan batas kecepatan di sungai Seine.

Namun seperti startup lainnya, ia takut perusahaannya akan ditahan oleh birokrasi administrasi jika ide tersebut lepas landas, dan ia perlu tumbuh dengan cepat.

"Ini adalah jalan yang penuh dengan hambatan. Kalau terlalu rumit, kita akan pergi ke tempat yang paling mudah," terang rekan bisnis Thebault.

Walikota Paris Anne Hidalgo memberi dukungan pada prototipe tersebut dengan pengujian di sungai Seine pada Juni lalu.

Sayangnya, Bubble hanya memiliki kesempatan untuk berlayar di Paris jika pihak berwenang menaikkan batas kecepatan sungai Seine, sehingga kapal bisa melaju cukup cepat untuk lepas landas. Hal tersebut adalah sebuah permintaan yang telah mereka tolak sejauh ini.

Pihak Hidalgo tidak menanggapi permintaan mengenai proyek tersebut. Sementara, Thebault telah mendapat beberapa dana awal dari bank investasi negara, namun saat mengajukan subsidi pemerintah yang memiliki dana 200.000 euro, mereka ditolak.

Seorang juru bicara pemerintahan mengatakan bahwa uang tersebut hanya bisa digunakan untuk perusahaan dengan kasus bisnis yang terbukti.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini