Huawei Bakal Rombak Jajaran Direksi Perusahaan, Ada Apa?

Lely Maulida, Jurnalis · Rabu 06 September 2017 14:31 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 09 06 207 1770415 huawei-bakal-rombak-jajaran-direksi-perusahaan-ada-apa-OuPxyEu8ET.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Huawei Technologies akan merombak dewan untuk pertama kalinya dalam enam tahun. Langkah ini ditempuh karena perusahaan asal China tersebut tengah bersiap untuk mendorong lebih dalam ke pasar negara maju seperti Amerika Serikat (AS) demi pertumbuhan bisnisnya.

Dijelaskan Chief Executive Officer Huawei, Guo Ping dalam sebuah wawancara, Huawei akan menentukan direksi terpilih perusahaan pada 2018 untuk pertama kalinya sejak tahun 2012. Hal ini akan membentuk kembali dewan direksi perusahaan yang dikendalikan oleh mantan insinyur militer Ren Zhengfei, dan memasukkan energi baru ke dalam raksasa telekomunikasi tersebut.

Dilansir Bloomberg, Rabu (6/9/2017), Huawei kini mengincar bisnis baru seperti cloud, serta ekspansi pasar dari Eropa ke Jepang. Perusahaan yang pada 2016 mengatakan bahwa suatu saat akan melampaui Apple dan Samsung, pangsa pasarnya di AS telah terhambat terkait hubungannya dengan pemerintah China.

Namun, Huawei bisa masuk ke pasar melaui kemitraan dengan penyedia layanan lokal, meskipun Guo mengatakan bahwa prioritasnya untuk saat ini adalah untuk memperkuat posisi yang ada, yang telah menguat di pasar China dan Afrika hingga Eropa Timur.

“Kami sangat terbuka dalam memilih mitra. Kami hanya menyediakan layanan dan tidak akan menggunakan data pelanggan, itulah yang membedakan kami dengan pemain lain,” kata Guo dalam sebuah wawancara dengan Bloomberg di Shanghai.

“Beberapa perusahaan AS telah datang kepada kami untuk sebuah kemitraan. Mereka mengiginkan pemain lokal membantu mereka menghadirkan layanan di China. Ada banyak kemungkinan,” ujarnya.

Huawei adalah satu dari segelintir perusahaan China yang telah membangun bisnis global selama dekade terakhir. Mulanya perusahaan ini menggunakan peralatan jaringan terjangkau untuk mendapatkan pangsa pasar luar negeri.

Namun ekspansi tak terduga dari pembuat perangkat ke merek ponsel telah membuang banyak biaya. Penghasilannya tumbuh paling lambat dalam lima tahun yakni pada 2016, karena merosotnya investasi untuk 5G.

Bisnis utamanya dari peralatan telekomunikasi melambat saat para operator seluler mempersiapkan munculnya standar 5G yang lebih cepat.

Huawei kini tengah memikirkan ulang tentang cara perusahaan menjalankan bisnisnya. Fokusnya adalah pada profitabilitas, eksplorasi bisnis di luar negeri dan menggebrak pasar smartphone high-end yang tentunya berhadapan dengan Apple dan Samsung.


Para ekskutif perusahaan juga telah menyatakan secara terbuka akan pentingnya restruktur budaya yang tersendat oleh birokrasi.

Tahun depan, perwakilan yang ditunjuk oleh pemegang saham hingga karyawan akan memberikan suara kepada daftar pejabat tinggi untuk dicalonkan oleh dewan yang beranggotakan 17 orang. Tak jelas apakah Ren yang kini berusia 72 tahun akan tetap bertahan atau tidak. Guo sebagai pemimpin perusahaan juga tak membahasnya secara rinci.

"Bapak Ren telah memimpin Huawei selama tiga dekade terakhir dan memberi Huawei arah yang sangat jelas," kata Guo.

"Bagi penerus atau pengikut, kita akan berpegang pada arah ini. Kami mengharapkan lebih banyak terobosan di bidang ini, saya pikir itu adalah permintaan dan harapan untuk tim manajemen baru," ujarnya. (lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini