Luar Biasa! Satelit NASA Dipakai untuk Deteksi Penyakit Malaria, Kok Bisa?

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 15 September 2017, 00:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 14 56 1776199 luar-biasa-satelit-nasa-dipakai-untuk-deteksi-penyakit-malaria-kok-bisa-YAZBlMvVxy.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Para ilmuwan sedang mengembangkan sebuah sistem baru untuk membantu memprediksi wabah malaria di tingkat rumah tangga sebulan sebelumnya. Hal ini ditempuh dengan menggunakan data dari satelit pengamatan Bumi di NASA, yang turut membantu mencegah penyebaran penyakit mematikan tersebut.

Wabah malaria sendiri sangat menantang karena sulit untuk mengetahui dimana orang yang tertular penyakit ini. Akibatnya, sumber daya yang biasa digunakan dengan insektisida dan semprotan dalam ruangan seringkali disebarkan ke daerah-daerah dimana hanya sedikit orang yang terinfeksi, sehingga wabah itu menyebar.

Untuk mengatasi masalah tersebut, para peneliti telah beralih ke data dari satelit yang mampu melacak kejadian manusia dan lingkungan yang biasanya mendahului wabah malaria.

“Malaria adalah penyakit bawaan vector-borne yang berarti Anda harus memiliki vektor, atau nyamuk dalam kasus ini menularkan penyakit,” kata William Pan, asisten profesor di Duke University di AS.

“Kunci alat peramalan malaria kami terletak pada titik-titik dimana daerah ia berkembang biak, dimana nyamuk-nyamuk ini tumpang tindih secara bersamaan dengan populasi manusia,” kata Pan.

Prediksi dimana nyamuk ini berkembang, bergantung pada identifikasi daerah dengan suhu udara hangat dan perairan yang tenang, seperti kolam dan genangan air, yang mereka butuhkan untuk bertelur. Periset beralih ke Land Data Assimilation System (LDAS), sebuah upaya pemodelan permukaan tanah.

Satelit NASA, seperti Landsat, Global Precipitation Measurement, dan Terra and Aqua, berfungsi sebagai masukan untuk LDAS, yang pada gilirannya memberikan informasi terkini tentang precipitation, suhu, kelembaban tanah dan vegetasi di seluruh dunia. Meskipun tidak mengidentifikasi genangan air dan kolam secara langsung, LDAS menunjukkan di mana mereka kemungkinan besar terbentuk.

LDAS juga melacak indikator utama lain untuk wabah malaria di masa depan seperti deforestasi, terutama saat pembangunan jalan dilibatkan. Ketika jalan dibangun, buldozer menggali parit untuk membuang pohon dan limbah vegetatif lainnya. Saat diisi dengan air hujan, parit tersebut menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Saat orang yang terinfeksi melintasi jalan ini dan menularkan penyakit ini ke nyamuk, wabah dapat terjadi.

Model regional akan memberikan gambaran besar tentang bagaimana manusia, nyamuk, dan penyakit berada dan di mana mereka menuju, berdasarkan bagaimana variabel tersebut berinteraksi. Pada saat yang sama, model agent-based akan memperbesar ruang geografis yang lebih ketat dengan memanfaatkan data hidrologi beresolusi tinggi dengan tinggal di lingkungan sekitar dan pergerakan orang.

Dalam kombinasinya dengan data LDAS, model itu akan menjalankan simulasi untuk menilai probabilitas kapan, dimana dan berapa banyak orang yang kemungkinan terkena gigitan serta terinfeksi penyakit ini.

Model akan digunakan untuk memproyeksikan 12 minggu ke depan dan menunjukkannya, kemudian menampilkan tingkat rumah tangga, di mana penyakit ini diprediksi akan bertahan.

Model ini juga akan mensimulasikan apa yang akan dihasilkan salah satu dari beberapa tindakan, mulai dari membagi-bagikan kelambu dan semprotan yang dapat mengurangi kontak nyamuk-manusia untuk mengelola pengobatan anti-malaria preventif yang dapat menghentikan penularan. Demikian seperti dilansir Financial Express, Jumat (15/9/2017). (lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini