Techno of The Week: Adopsi 4G Belum Maksimal, Ini penyebabnya!

Techno of The Week: Adopsi 4G Belum Maksimal, Ini penyebabnya!

(Foto: EDN)

JAKARTA - Adopsi layanan 4G tampaknya belum maksimal di Indonesia. Menurut pengamat Telekomunikasi, Nonot Harsono, sebaran layanan 4G penetrasinya masih kecil, baik dari keterjangkauan (coverage) maupun kepemilikan handset karena daya beli yang kurang.

Selain itu, ketertarikan sebagian besar masyarakat Indonesia sendiri dikatakannya memang belum tumbuh. "Jangan-jangan orang Indonesia sebagian besar belum butuh itu (4G), yang penting bisa komunikasi verbal. Belum lagi ada yang merasa gaptek (gagap teknologi) dan enggan untuk mencoba hal baru," ungkap Nonot dalam sebuah diskusi di Jakarta.

Guna memuluskan langkah transisi jaringan tersebut, seharusnya didorong oleh ketersediaan perangkat yang terjangkau oleh masyarakat. Namun lebih baik lagi, mantan komisioner BRTI ini mengatakan masyarakat seharusnya bisa mendapatkan handset secara gratis.

"Matiin boleh, tetapi bagiin smartphone gratis. Yang harus dipegang prinsipnya regulator karena pemerintah harus adil. Kalo negara enggak mau ikutan, operator bagaimana?," kata Nonot.

Tidak hanya itu, pemerintah juga seharusnya memberikan edukasi mengenai teknologi 4G serta fitur-fitur yang dimilikinya. Misalnya saja pemanfaatan aplikasi WhatsApp yang bisa digunakan untuk mengirim pesan dan juga telefon.

Ketegasan dari pemerintah untuk membuat peraturan yang bisa membatasi atau menghentikan pemakaian frekuensi 2G diyakini bisa mempercepat proses migrasi ke layanan 4G.

Jaringan 3G Disarankan Dimatikan

Migrasi pengguna 2G ke 4G perlu melibatkan seluruh pihak. Tidak hanya operator, pemerintah juga bisa melakukan edukasi kepada masyarakat.

Salah satu faktor belum ditutupnya layanan 2G ialah karena masih banyak pengguna yang memakai handset 2G. Dikatakan Director of Marketing and Communication Erajaya, Djatmiko Wardoyo, penjualan perangkat yang mengandalkan jaringan 2G masih cukup banyak di Indonesia.

Djatmiko menyarankan agar yang dimatikan adalah jaringan 3G. Sebab penggunaan 2G sendiri masih dibutuhkan untuk kebutuhaan dasar seperti telefon dan SMS. Sementara untuk akses internet sudah bisa menggunakan 4G.

"Harusnya keputusan bukan migrasi dari 2G ke 3G, langsung saja ke 4G. Jadi yang sebenarnya untuk dibinasakan ialah 3G. 2G masih bisa digunakan untuk kebutuhan dasar, sedangkan 4G untuk kebutuhan internet cepat," lanjut dia.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo), Rudiantara sebelumnya mengisyaratkan kurang dari lima tahun tidak ada lagi 2G di Indonesia.

"Kalau lima tahun sudah enggak ada 2G di Indonesia lah. Karena apa? 2019 itu harga ponsel 4G yang buatan dalam negeri ada yang Rp400-an ribu, sudah murah. Jadi enggak ada lagi, dibandingkan antara ponsel 4G (smartphone 4G) dengan yang 2G sudah enggak ada artinya, kita bicara tahun 2019-2020," kata Rudiantara.

Ia mengatakan, daya beli masyarakat meningkat dan operator fokus pada teknologi 4G. Menurutnya, pemerintah akan memutuskan menghilangkan 2G karena biaya mengirimkan data pakai 2G lebih mahal daripada 4G.

(ahl)

Baca Juga

Kontraknya Sebagai CEO Indosat Ooredoo Berakhir, Alexander Rusli: Sedang Diskusi Mau Lanjut atau Tidak

Kontraknya Sebagai CEO Indosat Ooredoo Berakhir, Alexander Rusli: Sedang Diskusi Mau Lanjut atau Tidak