Gawat! 'Salju Merah' Ini Bikin Es Antartika Meleleh dengan Cepat

Riani Angel Agustine, Jurnalis · Kamis 21 September 2017, 04:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 09 20 56 1780071 gawat-salju-merah-ini-bikin-es-antartika-meleleh-dengan-cepat-l1vQYy3PQi.jpg (Foto: Shutterstock)

ALASKA - Sebuah penelitian baru mengatakan perubahan iklim meningkat drastis akibat salju merah. Alga yang hidup di gletser Arktik mengubah permukaan menjadi merah sehingga mengurangi kemampuan mereka untuk memantulkan sinar matahari dan menciptakan lingkaran setan.

Dilansir dari Dailymail, Rabu (20/9/2017), lingkaran setan terbentuk karena sebagai meltwater sebagai tempat pertumbuhan mikroba yang lebih banyak. Meltwater sendiri merupakan air dari pencairan gletser yang mengalir pada permukaan glasial, subglasial, dan englasial.

Fenomena tersebut belum diperhitungkan dalam model iklim dan mengabaikan risiko pemanasan global. “Meremehkan tingkat pemanasan dan kenaikan permukaan laut menjadi akibatnya,” ungkap ahli biologi Profesor Roman Dial dari Alaska Pasific University.

Salju merah pertama kali ditemukan 200 tahun yang lalu di Nort Pass Barat yang terkenal. Nort Pass Barat merupakan rute es yang berbahaya dan menghubungkan Atlantik Utara ke Pasifik melalui Lingkaran Arktik.

Tetapi efeknya pada pemanasan global melalui percepatan pencairan sekarang telah terungkap. Percobaan di lapangan es di Alaska menunjukkan salju merah meleleh meningkat hampir seperlima.

Hal ini disebabkan oleh ganggang air tawar yang dingin dan dikenal dengan nama Chlamydomonas nivalis yang mengandung pigmen merah. Mereka juga dikenal sebagai semangka salju dan terjadi pada musim panas di sepanjang daerah kutub pesisir dan juga daerah pegunungan tinggi.

Tetapi mikroba yang tinggal di salju dapat mempercepat gletser meleleh dan membuat permukaan menjadi lebih gelap dan mengurangi pantulannya. Hal ini pada gilirannya mendorong pertumbuhan ganggang lebih baik menurut sebuah penelitian.

Profesor Dial mengatakan meskipun salju putih segar mencerminkan sebagian besar kotoran Matahari seperti karbon hitam dan debu dapat membuat permukaan menjadi gelap. Salju kotor ini meningkatkan pencairan glasial saat salju menghangat dengan lebih mudah.

Alga khusus yang hidup di gletser memiliki efek yang sama saat mereka mengubah salju menjadi warna merah. “Hasil percobaan yang disajikan di sini, bersama dengan pengamatan korelatif sebelumnya, percobaan laboratorium dan perhitungan teoritis memberikan kasus yang menarik untuk besarnya efek microbiome gletser pada hidrologi dan iklim,” ungkap Profesor Dial dari Alaska Pasific University di Anchorage.

Dengan menggunakan data dari satelit untuk memperkirakan pencairan salju di area 1.180 mil persegi, mereka menunjukkan ganggang salju merah meningkat sekira 17 persen. Ia mengatakan sebagai daerah yang tertutup salju merah ganggang menghasilkan lebih banyak air meleleh ini bisa menghasilkan umpan balik tentang pertumbuhan mikroba dan pencairan glasial.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini