Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

DO YOU KNOW: Luar Biasa! Pendengaran Burung Hantu Tak Lekang Usia

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 22 September 2017 04:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 09 21 56 1780461 do-you-know-luar-biasa-pendengaran-burung-hantu-tak-lekang-usia-q3o9rXeTns.jpg (Foto: Wikimedia)

JAKARTA – Kemampuan manusia untuk mendengar dibantu oleh adanya indera pendengaran dan telinga. Meski telinga seseorang tetap sehat, secara natural kemampuan pendengaran manusia akan berkurang seiring dengan semakin bertambahnya usia, khususnya setelah ia mencapai usia lanjut.

Namun tahukah Anda, hal tersebut tak berlaku bagi burung hantu? Berdasarkan penelitian baru terkait perilaku hewan tersebut, pendengaran burung hantu tak terpengaruh oleh usia layaknya manusia.

Manusia biasanya kehilangan sensitivitas pendengaran lebih dari 30dB pada frekuensi tinggi sekira usia 65 tahun, namun burung hantu hampir sama sekali tidak mengalaminya. Hal ini disebabkan oleh kemampuan berevolusi mereka untuk meregenerasi sel sensorik di telinga bagian dalam.

Jika manusia dapat mempelajari lebih lanjut terkait mekanisme biologis dibalik kemampuan burung hantu mempertahankan sensitivitas pendengarannya, kemungkinan manusia mampu mengembangkan perawatan baru untuk orang-orang dengan gangguan pendengaran mereka.

Burung Hantu Barn (Tyto Alba) khususnya memiliki pendengaran yang sangat sensitif yakni 10 kali lebih kuat ketimbang telinga manusia yang paling sensitif. Jadi tepat untuk mengatakan bahwa burung hantu sangat mampu menangkap mangsanya meski dalam kegelapan total, seperti disampaikan George Klump, salah satu penulis studi dari University of Oldenburg kepada IBTimes.

Beberapa burung hantu terlatih diuji untuk penelitian tersebut yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B, termasuk burung hantu tertua di Inggris, yang mencapai usia 15 tahun. Meski begitu burung hantu tertua tersebut hanya memiliki gangguan pendengaran yang sangat minim. Beberapa burung dalam percobaan itu juga adalah burung hantu tertua yang pernah diuji pendengarannya.

“Ini adalah demonstrasi yang bagus pada burung, pendengaran diawetkan jauh lebih baik daripada mamalia dan manusia berusia lanjut, dan orang dapat membuat hipotesis bahwa ini memiliki korelasi dengan kemampuan burung untuk memperbaiki kerusakan di telinga mereka," kata Klump.

"Manusia tidak dapat melakukan hal ini. Jika Anda pergi ke konser rock Anda mungkin kehilangan beberapa sensitivitas pendengaran, atau jika Anda bekerja di lingkungan yang bising, sebuah disc jockey di sebuah klub adalah contoh yang khas, mereka akan kehilangan sensitivitas pendengaran,” terangnya.

Untuk menguji pendengaran burung hantu, burung-burung dilatih untuk duduk dan menunggu suara yang dinyalakan, yang memberi isyarat kepada mereka bahwa jika mereka terbang ke tempat lain di mana ada feeder, mereka akan diberi makanan. Sementara jika mereka terbang ke tempat makan saat suara tidak dinyalakan, mereka tidak mendapat makanan sebagai imbalan.

Mempelajari pendengaran burung bisa memberi solusi untuk mengobati manusia yang kehilangan pendengarannya seiring bertambahnya usia.

“Memahami proses biologis yang mendasari pendengaran regenerasi pada burung pasti akan memiliki implikasi besar untuk pengobatan gangguan pendengaran pada manusia", kata Klump.

Dalam beberapa tahun terakhir, burung telah menjadi fokus banyak penelitian sebagai upaya ilmuwan untuk menjelaskan pertanyaan mengapa mamalia dan manusia tidak lagi memiliki kemampuan untuk menumbuhkan sel di telinga mereka.

"Dalam sistem vestibular kita benar-benar dapat melakukannya, jadi sangat menarik mengapa kemampuan ini dimatikan, kita tidak tahu mengapa. Tetapi orang melihat perbedaan antara burung dan mamalia dimana kemampuan untuk mematikan sel telah di switch untuk burung hantu, sehingga ada kemungkinan untuk dihidupkan,” jelasnya.

Dikatakan Klump, temuan ini memungkinkan manusia untuk benar-benar menyembuhkan gangguan pendengaran dibanding hanya memberi orang alat bantu dengar. Demikian dilansir IB Times, Jumat (22/9/2017). (lnm)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini