Peneliti Akhirnya Pecahkan Teka-teki Reproduksi Cacing Pipih, Ini Penjelasannya!

Riani Angel Agustine, Jurnalis · Kamis 28 September 2017 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 27 56 1784376 peneliti-akhirnya-pecahkan-teka-teki-reproduksi-cacing-pipih-ini-penjelasannya-jyX2P1j2Uk.jpg (Foto: UC San Diego)

SAN DIEGO - Planarian air tawar dapat ditemukan di seluruh dunia dan umumnya dikenal sebagai cacing pipih serta terkenal dengan kemampuan regeneratif mereka. Melalui proses yang disebut fisi, planarian dapat bereproduksi secara aseksual dengan membagi diri menjadi 2 bagian dan menghasilkan cacing baru dalam waktu sekira 1 minggu.

Dilansir dari Phys, Rabu (27/9/2017), kapan, di mana, dan bagaimana proses tersebut menjadi teka-teki selama berabad-abad karena sulitnya mempelajari fisi. Namun, tim ilmuwan University of California San Diego berhasil memberikan penjelasan biomekanik baru dalam Prosiding National Academy of Sciences (PNAS).

Planarian sangat sulit untuk dipelajari, karena mereka tidak suka diawasi selama proses fisi. Fisi sendiri tidak terjadi dalam frekuensi yang dekat, sehingga rekaman video harus terus-menerus merekam apapun yang planaria lakukan sampai fisi dimulai.

Untuk memahami di mana dan bagaimana fisi terjadi pada spesies planarian Dugesia japonica, para peneliti menggunakan rekaman time-lapse, pengukuran traksi yang sensitif, analisis statistik dari ratusan divisi dan pemodelan matematis. Eva Maria Collins, seorang profesor di Departemen Fisika dan Bagian Biologi Sel serta Perkembangan dan rekan-rekannya dapat memprediksi di mana fisi planar terjadi berdasarkan anatominya.

Mereka juga dapat menjelaskan bagaimana proses fisi terjadi dengan menggunakan model mekanis yang relatif sederhana. “Faktanya, studi terakhir tentang pembelahan sampai pada kesimpulan bahwa di mana fisi terjadi tidak dapat diprediksi. Hasil kami, menunjukkan bahwa hal itu dapat diprediksi, oleh karena itu benar-benar mengubah cara kita berpikir tentang pembelahan,” ungkap Collins.

Dalam temuan sebelumnya, Collins dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa di mana perbedaan planar menentukan ukuran relatif dari 2 keturunan tersebut. Dengan demikian menjadi peluang planar untuk bertahan hidup dan bereproduksi di masa depan.

Hal tersebut juga menjadi kunci dalam memahami bagaimana bentuk reproduksi aseksual dapat menimbulkan keragaman dalam populasi tanpa melakukan reproduksi seksual. Tim menemukan bahwa fisi selalu terjadi dalam 3 tahap yaitu, pembentukan pinggang pulsasi, dan ruptur.

Tahap pembentukkan pinggang merupakan kunci mekanika fisi, dengan menciptakan titik lemah cross sectional lokal. Kemudian, memperpanjang dan membuat kejutan yang akhirnya menyebabkan pecah di bagian pinggang.

Setelah pecah, 2 bagian tubuh yang hilang menuju kolam besar sel induk, yang merupakan pusat kemampuan planarian untuk beregenerasi. Bagaimana sel induk didistribusikan di antara kedua keturunan tersebut tetap tidak diketahui dan merupakan kaitan antara temuan penelitian baru ini dan penelitian berkelanjutan di laboratorium Collins.

Collins mengatakan bahwa dia ingin memahami bagaimana fisi rasial bekerja pada saat pertama kali dia melihat foto-foto proses tersebut bertahun-tahun yang lalu. "Kadang-kadang Anda hanya melihat sesuatu di alam dan ingin memahami cara kerjanya," tambahnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini