Google Loon Alami Kendala Bantu Korban Badai di Puerto Rico, Apa yang Terjadi?

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 29 September 2017 13:17 WIB
https: img.okezone.com content 2017 09 29 207 1785451 google-loon-alami-kendala-bantu-korban-badai-di-puerto-rico-apa-yang-terjadi-KZINSevJD9.jpg (Foto: Google X)

JAKARTA – Badai Maria telah menghancurkan jaringan listrik di Puerto Rico. Alhasil insfrastruktur pendukung internet pun turut lenyap sehingga masyarakat setempat tak bisa mengakses dunia maya.

Salah satu solusinya adalah dengan memancarkan internet dari langit ke daerah yang dilanda bencana. Sayangnya, inovasi tersebut seperti proyek Google Loon, masih dalam tahap penelitian dan pengembangan sehingga belum siap untuk diluncurkan.

Untuk diketahui, proyek Google Loon menggunakan balon-balon yang terbang dengan angin kencang setinggi 65.000 kaki. Dalam balon ini disematkan receiver yang mampu melakukan streaming internet ke dan dari ponsel di daratan yang berada dibawahnya.

Meski balon ini belum terpasang di Puerto Rico, Google X (laboratorium semi rahasia milik Google) sedang mempertimbangkan opsinya.

“Kami bekerja keras dengan pihak berwenang Puerto Rico untuk melihat apakah ada cara bagi kami untuk menggunakan balon Loon untuk membawa beberapa konektivitas ke pulau ini selama masa darurat,” kata juru bicara Google X dalam sebuah pernyataan yang diterima Mashable.

Proyek Loon nampak seperti solusi yang amat menggembirakan karena teknologi balon ini berhasil dikerahkan saat banjir ekstrem dan membuat masyarakat di Peru terlantar pada Mei lalu.

Namun kondisi antara Peru dan Puerto Rico  jauh berbeda. Sebelum banjir melanda, proyek Loon sudah melakukan pengujian konektivitas dengan perusahaan telekomunikasi Peru, Telefonica.

“Kami dapat menghubungkan orang-orang di Peru dengan cepat karena kami sudah bekerja sama dengan Telefonica dalam beberapa pengujian. Dalam hal ini (Puerto Rico) semuanya sedikit rumit karena kami harus memulainya dari awal,” kata Google X.

Di Peru, proyek Loon bisa mengirim tim ke area dimana orang tidak bisa berkomunikasi. Eksperimen daruratnya bekerja dengan memfasilitasi internet kepada puluhan ribu orang Peru, seperti dikatakan Kepala proyek Loon, Alastair Westgarth.

“Lebih dari 160GB data telah dikirim ke orang-orang di area gabungan seluas 40.000km2 atau kira-kira seukuran Swiss, dan data yang cukup untuk mengirim dan menerima sekira 30 juta pesan WhatsApp, atau dua juta email,” tulis Westgarth.

Sam seperti di Peru, proyek Loon tak bisa begitu saja mengirim balon dengan ketinggian yang tinggi ke wilayah Puerto Rico tanpa terlebih dulu membangun koneksi ke penyedia jaringan telekomunikasi.

"Untuk menyebarkan sinyal ke perangkat pengguna, Loon perlu diintegrasikan dengan jaringan mitra telko. Balon tidak dapat melakukannya sendiri," kata juru bicara Google X kepada Mashable.

Google memang bukan satu-satunya perusahaan dengan ambisi internet yang menyebar dari ketinggian yang tinggi. Facebook juga memiliki layanan yang sama meski tak menggunakan balon, yakni Aquila.

Aquila merupakan pesawat nirawak (drone) dengan sayap yang lebih lebar dan besar dari Boeing 737. Pesawat ini dirancang untuk terbang dengan kecepatan 60.000 kaki. Pada Mei lalu, Mark Zuckerberg mengatakan akan menyebarkan internet ke tempat-tempa terpencil di dunia dan memecahkan rekor untuk penerbangan pesawat nirawak terpanjang.

Google Loon bagaimana pun tampak jauh lebih berkembang sehingga ada potensi proyek Loon bisa digunakan di Puerto Rico meski kemungkinannya kecil. 

“"Kami sedang memilah-milah banyak kemungkinan opsi sekarang dan bersyukur atas dukungan yang kami dapatkan di lapangan," kata Google X dalam sebuah pernyataan. Demikian seperti dilansir Mashable, Jumat (29/9/2017). (lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini