Arab Saudi Cabut Blokir WhatsApp dan Skype, Operator Malah Merugi, Kok Bisa?

Lely Maulida, Jurnalis · Jum'at 06 Oktober 2017 11:05 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 10 06 207 1789901 arab-saudi-cabut-blokir-whatsapp-dan-skype-operator-malah-merugi-kok-bisa-wYCMlarNqI.jpg (Foto: Reuters)

RIYADH - Pemerintah Arab Saudi akhirnya mencabut larangan untuk panggilan yang dilakukan melalui aplikasi perpesanan seperti WhatsApp dan Skype. Meski begitu, regulator terkait akan terus memantau dan menyensor panggilan tersebut. Keputusan ini merupakan bagian dari langkah reformasi ekonomi negara Timur Tengah itu.

Semua layanan panggilan suaran dan video online seperti pada Skype, WhatsApp, Messenger, dan Viber besutan Rakuten yang memenuhi persyaratan pemerintah diizinkan untuk dapat diakses. Sejak akhir September lalu, pengguna akhirnya dapat kembali berkomunikasi dengan beberapa aplikasi tersebut.

Pencabutan blokir ini merupakan bagian dari reformasi ekonomi pemerintah Arab Saudi untuk membantu meningkatkan bisnis dan diversifikasi ekonomi sebagai respon atas harga minyak yang terbilang rendah.

Juru bicara regulator telekomunikasi CITC, Adel Abu Hameed, mengatakan bahwa peraturan baru ini bertujuan untuk melindungi informasi pribadi pengguna dan memblokir konten yang melanggar hukum kerajaan.

Saat ditanya apakah aplikasi itu dapat dimonitor oleh pihak berwenang atau perusahaan, ia mengatakan, “Dalam keadaan apapun pengguna tidak dapat menggunakan aplikasi untuk video atau panggilan suara tanpa monitor dan penyensoran oleh Komisi Komunikasi dan Teknologi Informasi, baik aplikasi yang bersifat global maupun lokal.”

Tak dijelaskan secara rinci bagaimana pihak berwenang mampu memantau aplikasi seperti WhatsApp. Sebagaimana diketahui, kini banyak aplikasi termasuk WhatsApp, yang mendukung fitur enkripsi end-to-end yang berarti peruasahaan tak dapat membaca pesan pengguna meski dirayu oleh lembaga penegak hukum.

Komunikasi melalui internet telah banyak digunakan di Aran Saudi, namun pemerintah mulai membatasi penggunaannya sejak tahun 2013. Hal tersebut dikarenakan kekhawatiran atas layanan yang kemungkinan digunakan oleh para aktivis.

Pencabutan blokir beberapa aplikasi ini tentu disambut baik oleh banyak pengguna. Namun rupanya hal ini menjadi kabar yang kurang menyenangkan bagi operator telekomunikasi utama di Arab Saudi yakni Saudi Telecom Co (STC), Etihad Etisalat (Mobily), dan Zain Saudi.

Perusahaan itu mengaku bahwa pendapatan mereka didominasi oleh penggilan internasional yang dilakukan oleh jutaan ekspatriat yang tinggal di kerajaan. Meski begitu, atas keputusan pemerintah yang mencabut blokir aplikasi, mereka meminimalisir pemangkasan pendapatan dengan perluasan layanan data.

"Pasar Saudi memiliki selera konsumsi yang kuat untuk throughput data yang lebih cepat dan paket penggunaan data yang lebih tinggi. Kesempatan untuk memonetisasi penggunaan data ekstra sebagian akan mengimbangi kerugian pendapatan suara,” kata CEO Zain Saudi, Peter Kaliaropoulos. Demikian seperti dilansir Reuters, Jumat (6/10/2017). (lnm).

(kem)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini