Beroperasi Januari 2018, Mesin Sensor Internet Bukan Sistem Penyadapan

Moch Prima Fauzi, Jurnalis · Senin 09 Oktober 2017, 15:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 09 207 1791838 beroperasi-januari-2018-mesin-sensor-internet-bukan-sistem-penyadapan-c6ua7ImxxF.jpg Dirjen APTIKA, Semuel Abrijani Pangerapan (Foto: Moch Prima Fauzi/Okezone)

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membantah adanya isu soal sistem penyadapan yang digunakan pada mesin penyensoran. Menurutnya, mesin sensor yang tendernya dimenangkan oleh PT INTI memiliki sistem crawling.

"Ini sistem crawling. Tidak ada yang istimewa dalam crawling. Sistem crawling itu sistem yang tadinya orang secara manual membuka website satu-satu dia ini akan secara otomatis," kata Dirjen Aplikasi Informatika (APTIKA) Semuel Abrijani Pangerapan, Senin (9/10/2017).

"Barang-barangnya pun sudah tersedia di market. Ada server ada storage bukan sistem yang digosipkan di luar membeli sistem DPI. Kita tidak membeli sistem DPI (deep packet inspection)," imbuhnya.

DPI adalah teknologi yang digunakan untuk memantau aliran data secara real-time dan melakukan pemeriksaan informasi data yang dikirim melalui router. Karena memiliki akses lebih dalam, sistem ini sering dikaitkan dengan aksi penyadapan.

Namun alih-alih untuk melakukan penyadapan, Semuel menjelaskan bahwa mesin sensor itu untuk memudahkan tim dalam memproses konten bermuatan negatif seperti pornografi, SARA, terorisme, ujaran kebencian dan lainnya.

Diakui Semuel, selama ini Kominfo melakukan proses penapisan konten secara manual yakni dengan memeriksanya satu per satu. Namun dengan kehadiran mesin bernilai Rp194 miliar ini dapat mempercepat proses tersebut karena dilakukan secara otomatis.

Penapisan konten negatif yang akan disasar oleh mesin sensor itu ialah semua yang mencakup wesbsite. Sedangkan untuk platform seperti media sosial dan layanan pesan instan akan melalui proses koordinasi dengan perusahaan pemilik.

"Kita harus proaktif. Selama ini kita lakukan manual, menunggu ada laporan. Dengan adanya mesin ini kita lebih aktif mencari dengan meng-crawling. Kalau manual itu kurang optimal dan memakan waktu," jelas Semuel.

Mesin tersebut akan lebih banyak digunakan untuk menapis konten pornografi yang saat ini diperkirakan ada 30 juta tiap tahunnya. Dengan cara manual, kata Semuel, Kominfo baru bisa menapis konten porno sebanyak 700 ribuan.

Maka diharapkan dengan adanya mesin sensor ini, Kominfo bisa lebih banyak menapis konten-konten pornografi yang akan mulai aktif pada Januari 2018. Setelah pengumuman pemenang tender hari ini, Kominfo akan lakukan serah terima dengan PT INTI pada Desember 2017.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini