Uber Gunakan Program Mata-Mata di Grab, Benarkah?

Moch Prima Fauzi, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 11:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 10 13 207 1794573 uber-gunakan-program-mata-mata-di-grab-benarkah-9A7AiOG06T.jpg (Foto: Tech Crunch)

JAKARTA - Uber dilaporkan menggunakan sebuah program khusus untuk memata-matai Grab, kompetitornya di Asia Tenggara. Program tersebut digunakan untuk mengumpulkan data para pengemudi Grab.

Kabar tersebut dilaporkan oleh Bloomberg berdasarkan bocoran dari sumber anonim. Program yang dinamakan Surfcam itu dikembangkan oleh staf Uber yang dapat mengetahui pengemudi Grab secara real-time dan di mana mereka berada.

Meski demikian tak diketahui apakah program khusus ini mengambil data secara diam-diam dari Grab atau berdasarkan informasi publik. Program tersebut digunakan Uber pada 2015 saat Travis Kalanick menjabat sebagai CEO.

Sumber Bloomberg juga mengatakan program tersebut menimbulkan kekhawatiran dengan anggota tim hukum Uber "yang mempertanyakan apakah dapat dioperasikan secara legal di Singapura karena mungkin bertentangan dengan persyaratan layanan Grab atau undang-undang kejahatan komputer yang ketat di negara tersebut."

Program khusus yang dibuat Uber memiliki cara kerja yang sama seperti Google yakni menjelajah web agar sebuah informasi dapat dicari atau bagaimana situs web agregator bekerja.

​

Sementara itu menanggapi laporan tersebut, pihak Grab merespons dengan mengatakan bahwa mereka menjunjung tinggi standar manajemen dan tata kelola internal yang ketat.

"Kami percaya menjadi perusahaan masyarakat yang bertanggung jawab dan yakin perusahaan harus dimintai pertanggungjawaban oleh pemerintah dan masyarakat atas perilaku korporat mereka," ungkap Grab dikutip dari Tech in Asia, Jumat (13/10/2017).

Sementara itu pihak Uber masih belum menanggapi laporan tersebut. Meski demikian, menurut seorang pengacara dan direktur firma hukum Peter Low & Choo, Choo Zheng Xi, aksi mata-mata tersebut dapat menimbulkan masalah jika lebih tertarget dan invasif.

"Di mana praktik tersebut berpotensi menjadi masalah adalah jika data menggores berubah menjadi sesuatu yang lebih bertarget dan invasif," kata Zheng Xi.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini