Soal RUU Penyiaran, Pengamat: Penerapan Single Mux akan Menimbulkan Masalah Baru

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 13 Oktober 2017, 19:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 13 207 1795047 soal-ruu-penyiaran-pengamat-penerapan-single-mux-akan-menimbulkan-masalah-baru-bH5y8Pl1fj.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA – Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran hingga saat ini belum juga usai dirumuskan. Konsep single mux yang ‘keukeuh’ diusung oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menuai pro kontra dari berbagai pelaku industri penyiaran.

Konsep single mux dinilai berbagai kalangan akan membuat industri penyiaran menjadi tidak sehat. Konsep ini sendiri akan menetapkan Lembaga Penyiaran Publik Radio Televisi Republik Indonesia (LPP RTRI) sebagai satu-satunya penyelenggara penyiaran multipleksing digital.

Dijelaskan Kamilov Sagala, Ketua Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat Informasi Indonesia (LPPMII) pemberlakukan single mux bukanlah solusi, namun justru akan menimbulkan masalah baru.

“Dengan melakukan perubahan model bisnis pertelevisian menjadi model single mux sudah tentu akan menimbulkan masalah baru bukan memberikan solusi. Itikad tidak baik sudah tentu menjadi asumsi para pemain dalam industri televisi dengan adanya niatan dari regulator mengubah model bisnis menjadi single mux,” kata Kamilov dalam opininya yang diterima Okezone.

Menurutnya, regulator selayaknya mengantisipasi hal lain yang dibutuhkan terkait migrasi dan affordability. Dalam merancang regulasi, selayaknya regulator tak melupakan ketersediaan layanan dan kemampuan daya beli demi mencapai tujuan migrasi yang maksimal dari sistem analog menuju digital.

Ia juga menyarankan para pembuat kebijakan untuk lebih memberikan solusi bagi semua pihak, bukan malah bertindak acuh. Berkaca dari negara lain yang berhasil mengimplikasikan konsep hybrid mux, menurut Kamilov konsep tersebut akan menjadi solusi yang baik bagi berbagai pihak di Indonesia.

“Mengingat pada keberhasilan negara-negara lain, maka pilihan seharusnya diperluas dengan memperhatikan model bisnis hybrid mux. Dengan adanya opsi model hybrid mux ini menjadi win win solution bagi semua pihak. Pilihan yang terbaik harus mendasarkan pada keberlangsungan jangka panjang dan kebaikan bersama, bukan hanya demi kepentingan sesaat yang mengakibatkan kekacauan dimasa yang akan datang karena menanggung beban regulasi yang tidak baik yang dihasilkan saat ini,” kata Kamilov menegaskan.

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini