Akhirnya! Peneliti Ungkap Penyebab Kematian Ratusan Kuda Nil

Riani Angel Agustine, Jurnalis · Selasa 17 Oktober 2017 01:03 WIB
https: img.okezone.com content 2017 10 17 56 1796710 akhirnya-peneliti-ungkap-penyebab-kematian-ratusan-kuda-nil-JkkzL5s5Cj.jpg (Foto: Namibian Broadcasting Corporation/YouTube)

WINDHOEK - Lebih dari 100 kuda nil telah mati yang diduga akibat wabah antraks di sebuah taman nasional terpencil di Namibia. Korban pertama dari wabah di Taman Nasional Bwabwata diketahui oleh petugas taman pada 1 Oktober.

Dilansir dari Sciencealert, Senin (16/10/2017), dalam kurun waktu kurang dari 2 minggu, infeksi dari wabah antraks tersebut menyebar dengan cepat. Petugas taman mengklaim bahwa sudah 109 kuda nil yang meninggal dalam waktu kurang dari 2 minggu.

"Lebih dari 100 kuda nil meninggal dalam seminggu terakhir. Penyebab kematian tidak diketahui namun tanda-tanda tersebut sejauh ini menunjukkan bahwa hal itu bisa menjadi antraks," ungkap Menteri Lingkungan Namibia, Pohamba Shifeta. Kuda nil yang mati tersebut ditemukan berbaring di perairan sungai.

Jika dugaan petugas kematian kuda nil tersebut akibat wabah antraks, kematian kuda nil bukanlah satu-satunya korban wabah tersebut. Sejumlah kerbau air juga dilaporkan telah ditemukan dalam kondisi mati.

Kekhawatiran juga muncul dari buaya yang mengincar kuda nil yang mati akibat wabah antraks yang akan menyebabkan tertularnya wabah tersebut. Penduduk setempat dan otoritas Namibia mencurigai adanya antraks berdasarkan riwayat wabah yang menyebar di Afrika.

Dengan perkiraan 300 orang meninggal dalam sebulan pada 2004, mereka terkontaminasi akimat meminum air yang telah terdapat wabah antraks. "Ini adalah situasi yang telah kita lihat sebelumnya," ungkap Direktur Taman Margasatwa dan Pengelolaan Margasatwa Namibia, Colgar Sikopo.

Selain infeksi wabah antraks, para ilmuwan baru-baru ini menyelidiki strain hibrida misterius dari pathogen yang terkait dengan kematian simpanse, gorilla, dan gajah. Wabah Strain ini dianggap bertanggungjawab atas kematian hampir 40% hewan di Taman Nasional Tai di Pantai Gading selama masa studi.

Tidak ada bukti bahwa strain secara khusus berada di balik kematian nilon, namun otoritas setempat berharap keterpencilan Taman nasional Bwabwata dapat mencegah wabah menyebar dan membuat satwa liar lainnya mati. Selain satwa liar, sekira 5.500 orang diperkirakan tinggal di taman tersebut.

Pihak berwenang telah memperingatkan penduduk untuk tetap mewaspadai daerah yang terkena dampak wabah, terutama untuk tidak mengonsumsi daging kuda nil. "Apa yang kita lakukan adalah kita mencoba yang terbaik untuk membakar setiap bangkai untuk mencegah penyebaran penyakit lebih lanjut, tetapi juga untuk memastikan bahwa tidak ada orang yang mendapatkan hewan ini dan mulai memberi makan pada dagingnya,” tambah Sikopo.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini