DO YOU KNOW: Rupanya! Kentut Sapi Berkontribusi dalam Pemanasan Global

Riani Angel Agustine, Jurnalis · Jum'at 20 Oktober 2017, 04:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 20 56 1798941 do-you-know-rupanya-kentut-sapi-berkontribusi-dalam-pemanasan-global-yYLdO1YSos.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Saat ini terdapat sekira 1,3 sampai 1,5 miliar sapi yang memakan rumput, tidur, dan mengunyah setiap harinya. Dengan berat rata-rata sapi normal yaitu 700 sampai 1.000 kilogram, pola pencernaan sapi hampir sama dengan yang dimiliki oleh manusia.

Dilansir dari Todayifoundout, Kamis (19/10/2017), sapi juga dapat memiliki gas dari hasil pencernaan yang harus dikeluarkan sehingga tidak menggangu proses pencernaan makanan dalam perutnya. Dalam sebuah laporan dari United Nations’ Food and Agricultural Organization pada 2006, mereka mengklaim bahwa sektor peternakan khususnya sapi menghasilkan dan memberi kontribusi emisi gas daripada yang dihasilkan rumah kaca.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Denmark, rata-rata sapi menghasilkan metana yang cukup untuk melakukan pengrusakan rumah kaca yang sama dengan 4 ton karbon dioksida per tahunnya. Sapi, domba, kambing, jerapah, dan rusa termasuk kelas mamalia yang disebut ruminansia.

Ruminansia adalah kelompok hewan mamalia yang memakan dan mengunyah makanannya melalui 2 fase. Pada fase pertama, makanan dikunyah sebentar dan masih dalam bentuk yang kasar, makanan tersebut disimpan di dalam rumen lambung.

Fase kedua terjadi setelah beberapa saat ketika lambung mulai penuh, mereka kemudian mengeluarkan makanan yang masih dalam bentuk kasar untuk dikunyah kembali agar menjadi halus. Setelah halus, makanan tersebut akan masuk ke dalam rumen lambung kembali dan akan melalu proses pencernaan seperti biasanya.

Di dalam rumen, terdapat lebih dari 400 jenis mikroba yang memainkan peran penting dalam proses pencernaan. Beberapa mikroba tersebut menciptakan gas metana sebagai produk sampingan.

Karena banyaknya sapi di Bumi, bersama dengan ukuran besar per ekornya, sapi-sapi tersebut menghasilkan lebih banyak gas metana daripada ruminansia lainnya. Metana sendiri 21 kali lebih ampuh untuk menjebak panas dari Matahari daripada karbon dioksida.

Meskipun kurang lazim di atmosfer daripada dioksida karbon dioksida, metana merupakan gas perusak. Menurut Institut Goddard milik NASA (National Aeronautics and Space Administration), sejak pergantian abad ke-19, emisi gas metana meningkat sebesar 150%.

Peternakan merupakan sumber emisi gas metana terbesar di dunia yang memberikan kontribusi lebih dari 28% dari total emisi. Lahan basah, kebocoran dari kilang minyak dan pengeboran, serta tempat pembuangan sampah juga menyumbang gas metana ke atmosfer.

Sebenarnya, tidak seperti rasio dalam skala global, di Amerika Serikat, peternakan hanya merupakan penyumbang terbesar ke-3, di belakang pertambangan dan pengangkutan gas alam dan pemborosan limbah TPA. Sesungguhnya tidak banyak kentut itulah yang menjadi masalahnya utamanya, persemaian dan pupuk sapi juga menyumbang lebih banyak gas metana daripada perut kembung.

Menurut peneliti di Balai Penelitian Mahkota terbesar Selandia Baru, AGResearch, hingga 95% emisi berasal dari mulut sapi daripada bagian belakangnya. Diperkirakan, melalui lubang mana pun, masing-masing individu membiarkan antara 35 galon metana per hari. Dengan perkiraan 1,3 sampai 1,5 miliar atau lebih peternak di dunia saat ini.

Gas metana yang dipancarkan oleh sapi dan ternak lainnya memang memiliki dampak signifikan pada jumlah gas rumah kaca di atmosfer Bumi, yang merupakan penyebab utama perubahan iklim dan pemanasan global. Sementara kentut bukanlah satu-satunya cara sapi mengeluarkan metana, paling tidak, namun sebagai contoh yang mudah untuk dikatakan bahwa kentut sapi berperan dalam iklim Bumi yang semakin panas.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini