DO YOU KNOW: Rupanya! Kekurangan Tidur Sebabkan Gangguan Memori hingga Kematian

Riani Angel Agustine, Jurnalis · Senin 23 Oktober 2017, 04:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 10 21 56 1799991 do-you-know-rupanya-kekurangan-tidur-sebabkan-gangguan-memori-hingga-kematian-BgXsRBhHmn.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa kekurangan tidur memiliki efek yang berkepanjangan yang dapat mengganggu efektivitas kegiatan sehari-hari. Kekurangan tidur yang berkepanjangan dapat menyebabkan fungsi kognitif dan motorik menjadi lebih rendah dari biasanya, serta menyebabkan gangguan memori.

Dilansir dari Todayifoundout, tidak ada satu studi pun yang pernah menunjukkan mengapa tidur diperlukan untuk kelangsungan hidup manusia dan tidak ada catatan yang pernah mencatat bahwa kekurangan tidur menjadi penyebab kematian manusia. Namun, sebuah penelitian yang menggunakan tikus sebagai target penelitian, secara konsisten menunjukkan bahwa kekurangan tidur yang berkelanjutan dapat menyebabkan kemungkinan kematian sebanyak 100% dalam jangka waktu yang relatif singkat.

Dalam percobaan tersebut, setiap tikus yang mengalami kekurangan tidur akan meninggal dalam kurun waktu 2-3 minggu setelah percobaan dimulai. Namun, penelitian serupa tidak pernah dilakukan pada manusia sehingga tidak ada jawaban yang jelas untuk jawaban mendunia tersebut.

Tetapi, mengingat banyaknya penelitian yang menggunakan hewan sebagai target penelitian menunjukkan berbagai masalah kesehatan muncul akibat kurang tidur yang berkepanjangan. Mempertahankan homeostasis atau istilah yang digunakan untuk menggambarkan kemampuan fisiologis tubuh dalam mempertahankan keseimbangan dan kecenderungan semua jaringan hidup guna memelihara dan mempertahankan kondisi.

Untuk menjaga hal tersebut, tubuh membutuhkan istirahat atau tidur yang cukup. Salah satu struktur otak yang bertanggungjawab untuk menjaga homeostasis melalui pelepasan hormon adalah hipotalamus.

Hipotalamus mengendalikan keadaan seperti suhu tubuh, kelaparan, haus, kelelahan, emosi, pertumbuhan, keseimbangan garam dan air, berat dan nafsu makan, dan ritme sirkadian yang terlibat dengan tidur. Terdapat beberapa komponen yang bekerjasama yang membuat orang ingin tidur dan bangun.

Komponen tersebut biasanya berputar sekira 24 jam siklus yang dikenal sebagai ritme sirkadian. Salah satu faktor yang membuat orang ingin tidur adalah adanya Adenosin (nukleosida purin).

Senyawa tersebut menghambat banyak proses tubuh untuk tertidur dan menjaga tubuh manusia untuk tetap terjaga, khususnya menghambat neurotransmiter seperti norepinephrine, acetylcholine dan serotonin. Tingkat adenosin akan terus meningkat di otak saat tubuh manusia dalam kedaan terjaga.

Tubuh juga bereaksi terhadap siklus cahaya dan gelap untuk mengatur tidur. Saat cahaya memasuki mata, jalur saraf antara retina mata dan hipotalamus menjadi distimulasi.

Area hipotalamus yang disebut inti suprachiasmatic (SCN) memberi sinyal pada bagian tubuh yang tak terhitung jumlahnya untuk mulai melepaskan hormon yang mengendalikan keinginan untuk bangun atau merasa mengantuk. Saat kegelapan terjadi, SCN memberi sinyal pada kelenjar pineal untuk mengeluarkan hormon yang disebut Melatonin.

Melatonin akan membuat tubuh merasa kurang waspada dan mengantuk. Tingkat melatonin tetap tinggi selama sekira 12 jam, dan pada jam 9 pagi, dengan asumsi siklus cahaya atau gelap alami, hampir tidak terdeteksi di aliran darah. Menariknya, paparan sinar buatan tertentu dapat mempengaruhi kadar melatonin secara signifikan.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini