Marak GIF Pornografi di WhatsApp, Kominfo Deadline Facebook hingga Rabu 8 November

Lely Maulida, Jurnalis · Senin 06 November 2017, 21:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 11 06 207 1809511 marak-gif-pornografi-di-whatsapp-kominfo-deadline-facebook-hingga-rabu-8-november-lRTs18fr53.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) telah melayangkan peringatan kepada Facebook, perusahaan yang menaungi WhatsApp. Langkah ini ditempuh demi menanggulangi konten pornografi yang tersebar di WhatsApp dalam format GIF.

Diakui Dirjen Aplikasi Informatika - Semuel Abrijani Pangerapan, Kominfo telah melayangkan peringatan sejak Minggu (5/11) malam atau tak lama setelah masyarakat berbondong-bondong melaporkan konten itu. Tak hanya itu, Kominfo juga kembali melayangkan peringatan pada Senin (6/11) dini hari dan pagi kepada Facebook untuk menindak konten tak layak di WhatsApp.

Kominfo memberikan tenggat waktu 2x24 jam setelah pihaknya melayangkan peringatan terakhir. Artinya, pada Rabu (8/11) Facebook harus memberikan tanggapan dan melakukan penindakan.

"Kita ada undang-undang, ada permen, ada SOP-nya, batas maksimalnya 2x24 jam karena mereka sistem besar. Kita memahami itu, belum lagi perbedaan waktu," terang Semuel dalam acara Talk to iNews di Jakarta, Senin (6/11/2017).

Jika perusahaan milik Mark Zuckerberg itu tak juga merespons, Kominfo tak segan untuk memblokir pesan instannya tersebut.

"Saya tidak ada keraguan untuk memblokir (WhatsApp). Diharapkan Rabu sudah ada soslusi," kata Semuel tegas.

Saat ini situs penyedia GIF pornografi WhatsApp yang bersumber dari Tenor telah di blokir oleh Kominfo. Meski begitu GIF pornografi masih bisa diakses melalui WhatsApp karena perusahaan belum melakukan take down.

Oleh karenanya Kominfo juga mendesak Facebook agar mengatur konten yang tersedia di platform-nya sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia.

"Facebook mengatakan itu tanggungjawab pihak ketiga yang terkoneksi ke jaringan mereka karena itu terenkripsi. Tapi harusnya mereka bertanggungjawab," ujarnya. (lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini