Menakjubkan! NASA Ungkap Animasi Perubahan Bumi dalam 20 Tahun

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 15 November 2017, 00:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2017 11 14 56 1814133 menakjubkan-nasa-ungkap-animasi-perubahan-bumi-dalam-20-tahun-frW2MUezgB.jpg (Foto: Dailymail)

LONDON - NASA telah mengungkapkan sebuah visualisasi menakjubkan dari Bumi yang memperlihatkan perubahan vegetasi selama 20 tahun. Melalui pengamatan satelit yang sedang berlangsung di permukaan Bumi, para ilmuwan menemukan perubahan jangka panjang.

Perubahan jangka panjang itu dapat memberi dampak besar pada habitat dan ekosistem yang berbeda di seluruh dunia. Peta tersebut juga menunjukkan perubahan musim yang drastis baik di daratan maupun perairan.

“Ini adalah sebuah visualisasi yang luar biasa dari planet kita. Itulah Bumi. Bernapas setiap hari, berubah seiring pergantian musim, bereaksi terhadap matahari, angin, arus laut dan suhu yang beruba," jelas Gene Carl Feldman, seorang ahli kelautan di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA.

Baca juga: Nih! Hewan Purba Teraneh yang Pernah Ada di Bumi

Menurut NASA, badan antariksa terus-menerus mengobservasi kehidupan samudera dan darat dengan satelit selama 20 tahun, di musim gugur ini, setelah peluncuran Sea-viewing Wide Field-of-view Sensor (SeaWiFS) pada 1997.

Selama bertahun-tahun, hasil pengamatan menunjukkan bahwa semakin naik suhu maka Arktik tampak lebih hijau, seiring dengan fenomena lainnya, termasuk perluasan ‘gurun biologis’. Pada daerah ini, kehidupan kecil dapat berkembang dan telah terlihat pada populasi fitoplankton di lautan.

Sementara satelit sudah digunakan sebelum 1997 untuk memonitor Bumi, peluncuran SeaWiFS telah memulai usaha global pertama secara berkepanjangan. Banyak yang meragukannya ketika data muncul pertama kali. Pihak NASA mengatakan bahwa pada saat itu, orang-orang merasa tidak yakin apakah permukaan Bumi dapat terlihat jelas dari luar angkasa

Baca juga: Ternyata! Studi Mars Ungkap Petunjuk Kehidupan Asli di Bumi

“Kami sangat takjub saat melihat gambar pertama,” ujar Compton Tucker, seorang ilmuwan Goddard dari NASA, dalam sebuah penelitian 1985 mengenai penghijauan dan kematian padang rumput di Senegal. Para peneliti mengembangkan sebuah cara untuk membandingkan data satelit dari dua panjang gelombang untuk pengukuran kehijauan bernama Normalized Difference Vegetation Index.

“Mereka sangat mengagumkan karena dapat menunjukkan proses vegetasi yang berubah setiap tahunnya, dari tahun ke tahun,” kata Tucker.

“Saat kami membuat ini, orang-orang menuduh kami ‘menggambar dengan angka’ atau memalsukan data. Namun, untuk pertama kalinya, Anda bisa meneliti vegetasi dari luar angkasa berdasarkan kapasitas fotosintesisnya,” tuturnya.

Baca juga: Yuk! Ketahui Pohon-Pohon Terbesar yang Ada di Bumi

Pada 1998, sebuah instrumen bernama Coastal Zone Color Scanner mampu menunjukkan penampakan pertama warna laut. Hal ini merupakan perubahan yang luar biasa karena Bumi mengalami pergeseran dari El Nino ke La Nina pada 1998.

“Seluruh Pasifik Timur, dari pantai Amerika Selatan sampai garis perbatasan, mentransisi bentuk yang setara dengan gurun biologis ke hutan hujan yang berkembang,” kata Feldman.

“Lalu kami menyaksikannya terjadi secara langsung. Bagi saya, itu merupakan demonstrasi pertama yang menunjukkan kekuatan pengamatan semacam ini, untuk melihat bagaimana laut bereaksi pada salah satu gangguan lingkungan paling signifikan yang dapat terjadi, hanya dalam beberapa minggu,” terangnya.

Data tersebut menunjukkan proses perubahan fitoplankton di laut selama bertahun-tahun. Di beberapa wilayah, yang dikenal sebagai ‘gurun biologis’, organisme mengalami pertumbuhan rendah di tengah arus yang bergerak lambat. Data satelit juga dapat membantu mengungkap perubahan iklim terhadap tanaman pangan di seluruh dunia.

Meneliti Fotosintesis dari Luar Angkasa

Ilmuwan tengah meneliti fotosintesis dari luar angkasa. Hal ini bisa membantu mereka memahami lebih baik kapan dan di mana tanaman mengubah sinar matahari menjadi gula.

“Itu seperti semacam petunjuk yang mengatakan ya, Anda bisa,” ucap Joanna Joiner, seorang ilmuwan Goddard dari NASA.

The US Corn Belt, misalnya, fluoresensi ‘dengan gila’. Fluoresensi sendiri adalah terpancarnya sinar oleh suatu zat yang telah menyerap sinar atau radiasi electromagnet lain.

“Pada puncaknya, tanaman tersebut memiliki beberapa tingkat fluoresensi tertinggi di Bumi,” kata Joiner.

“Salah satu pertanyaan besar yang tersisa adalah seberapa banyak karbon yang digunakan tanaman, mengapa bervariasi dari tahun ke tahun, dan daerah mana yang berkontribusi pada variabilitas ini,” pungkasnya. Demikian dilansir dari Daily Mail, Selasa (14/11/2017).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini