Menakjubkan! Bulan sebagai Satelit Bumi Dijelaskan Alquran dan Sains

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Kamis 16 November 2017 06:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 16 56 1814821 menakjubkan-bulan-sebagai-satelit-bumi-dijelaskan-alquran-dan-sains-WipYwEtQFs.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Bila malam tiba di suatu kawasan, keadaan di tempat tersebut akan menjadi gelap. Hal seperti ini selalu terjadi di semua tempat, walau waktunya secara tepat tidak sama.

Dalam buku Tafsir Ilmi 'Manfaat Benda-Benda Langit dalam perspektif Alquran dan Sains' yang disusun oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Alquran, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, dengan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menjelaskan bulan sebagai satelit Bumi.

Kegelapan yang meliputi suatu daerah terjadi akibat hilangnya cahaya matahari karena rotasi Bumi. Pada awal bulan, bulan sabit dengan cahayanya yang temaram akan tampak di langit.

Baca juga: Masya Allah, Bulan Pengaruhi Pasang Surut Air Laut dalam Pandangan Alquran dan Sains

Semakin hari cahayanya semakin terang seiring makin besarnya penampakan bulan itu. Pada akhirnya bulan akan tampak bulat penuh sebagai purnama.

Pada saat itu cahaya yang dipancarkannya dapat menerangi Bumi, walau tidak seterang waktu siang. Bulan adalah benda langit malam yang paling populer bagi penduduk Bumi.

Kehadirannya selalu dapat disaksikan hampir setiap malam karena bulan memang merupakan satelit Bumi. Karena posisinya sebagai satelit, maka bulan akan selalu menyertai Bumi setiap saat.

Baca juga: Bulan Terbelah dalam Penjelasan Alquran dan Sains

Terbit dan tenggelamnya bulan merupakan suatu keniscayaan yang akan selalu terjadi. Isyarat tentang fenomena seperti ini dapat ditemukan dalam Alquran.

"Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". Tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang yang sesat," Surah Al-An'am Ayat 77.

Pada ayat sebelumnya Allah menjelaskan keadaan Ibrahim muda yang sedang bertanya-tanya apakah bintang yang tampak bercahaya di langit merupakan tuhan.

Namun, ketika bintang itu terbenam atau hilang dari pandangan pada pagi hari karena munculnya matahari dengan cahayanya yang lebih kuat, maka ia yakin bahwa bintang itu bukan tuhan.

Baca juga: Alquran dan Sains Jelaskan Bulan Memantulkan Cahaya Matahari

Pada ayat ini dikisahkan betapa pencarian tuhan oleh Ibrahim muda masih berlanjut. Ketika ia melihat bulan yang lebih besar dan cahayanya lebih terang daripada bintang, ia menduga bahwa bulan itulah tuhan yang dicarinya.

Akan tetapi, seperti halnya bintang, bulan juga terbenam pada pagi hari. Pada saat itu ia yakin bulan juga tidak layak disebut tuhan. Bulan ialah salah satu benda langit yang diciptakan.

"Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam," Surah Al-A’raf Ayat 54.

Ayat ini secara tegas menginformasikan bahwa langit, Bumi, matahari, bulan dan bintang-bintang merupakan ciptaan Allah. Sebagai makhluk, semua benda langit tunduk pada hukum yang telah ditentukan-Nya, patuh pada norma-norma yang ditetapkan-Nya.

Bulan merupakan benda langit, sebagaimana benda-benda angkasa lainnya yang terbit dan terbenam. Fenomena seperti ini sebenarnya merupakan sesuatu yang secara alamiah terjadi pada semua benda angkasa.

Seperti diketahui, bulan tidak memiliki cahayanya sendiri. Cahaya yang seolah-olah berasal darinya merupakan pantulan dari cahaya matahari.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini