Melambatnya Rotasi Bumi Dapat Picu Lebih Banyak Gempa

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 22 November 2017 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 21 56 1818185 melambatnya-rotasi-bumi-dapat-picu-lebih-banyak-gempa-Vl7pUVozId.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Sebuah penelitian baru menemukan bahwa rotasi Bumi yang sedikit melambat tahun depan dapat memicu lebih banyak gempa Bumi dari biasanya. Menurut penelitian yang dipresentasikan bulan lalu di pertemuan tahunan Perhimpunan Geologi Amerika, periode rotasi lambat selama 100 tahun terakhir bertepatan dengan gempa Bumi yang lebih banyak dari biasanya.

“Jumlah gempa yang muncul setiap tahun di abad lalu sangat terkenal. Perubahan tingkat rotasi Bumi juga sangat diketahui,” kata rekan penulis penelitian, Roger Bilham, seorang ahli geofisika di Universitas Colorado Boulder, dalam email untuk Live Science.

Baca juga: Rotasi Bumi Melambat, Sehari Jadi 25 Jam?

Ide dasarnya adalah saat putaran Bumi sedikit melambat, khatulistiwa menyusut. Lempeng tektonik tidak menyusut dengan mudah, tepi lempengnya akan terhimpit.

Bilham menjelaskan bahwa walaupun himpitannya tidak besar, hal itu bisa menambah tekanan pada batas lempeng yang sebelumnya sudah mengalami tekanan sehingga gempa Bumi lebih mungkin terjadi.

Bilham dan rekannya, Rebecca Bendick, seorang ahli geofisika di Universitas Montana di Missoula, meninjau bahwa rata-rata terdapat 15 gempa Bumi besar per tahun sejak 1900. Namun, dalam periode tertentu, terdapat 25 hingga 35 gempa Bumi lebih besar dari magnitude 7 dalam setahun. Periode tersebut bertepatan pada saat Bumi berputar lebih lambat, yang berarti satu hari akan berjalan lebih lama.

Baca juga: Bangunan Ini Memiliki Desain Khusus Tahan Gempa

Perubahan pada kecepatan rotasi Bumi bisa diakibatkan oleh pola cuaca seperti El Nino, arus laut, dan arus di inti cair Bumi. Bilham mengatakan bahwa ketika aktivitas cairan menjadi cepat, Bumi yang padat harus melambat.

Namun, efek ini kemungkinan hanya akan berdampak pada keretakan yang sudah mengalami tekanan dan berisiko pecah. "Kami tidak memiliki informasi mengenai lokasi gempa yang akan terjadi, kecuali jika terjadi di batas lempeng dunia," kata Bilham.

Amos Nur, sorang ahli geofisika di Universitas Stanford di California berpendapat bahwa saat ini para ilmuwan belum memahami lebih lanjut apa sebenarnya yang memicu gempa Bumi dan belum bisa memprediksi gempa. Meskipun begitu, terdapat beberapa cara untuk memvalidasi penelitian tersebut. Demikian dinukil dari Live Science, Selasa (21/11/2017).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini