Jaringan Serat Optik Dipakai untuk Deteksi Gempa Bumi, Kok Bisa?

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Kamis 23 November 2017 01:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2017 11 22 56 1818505 jaringan-serat-optik-dipakai-untuk-deteksi-gempa-bumi-kok-bisa-bPxiYdMXlA.jpg (Foto: Dokumentasi Okezone)

STANFORD - Para ilmuwan dari Universitas Stanford telah menunjukkan proses jaringan telekomunikasi serat optik, yang terkubur di bawah banyak kota rupanya dapat mendeteksi aktivitas seismik.

Dilansir dari Digital Journal, hal penting dari penemuan baru ini adalah pemanfaatan jaringan serat optik yang ada.

Ini sudah cukup sensitif untuk mendeteksi gerakan seismik yang sangat sedikit sekalipun. Data yang terkumpul dapat menunjukkan arah dan besaran gempa.

Baca juga: Gempa Bumi Bisa Ubah Air jadi Emas

Gabungan jaringan-jaringan ini dapat menciptakan observatorium untuk merasakan gempa yang terdiri dari ‘miliar’ sensor dengan data yang terkumpulkan dan terlacak dalam ‘real time’. Ini akan memasok data yang sangat besar daripada sensor seismik tradisional.

Selain itu, biaya untuk membangun jaringan tersebut lebih ringan daripada menggunakan sensor tradisional, karena jaringan-jaringannya sudah ada. Yang dibutuhkan hanyalah pemasangan alat interogator laser.

Perangkat ini telah dikembangkan oleh perusahaan OptaSense, dan hanya perlu ditempatkan pada salah satu ujung serat optik. Konsep ini berdasarkan penelitian oleh Profesor Biondo Biondi.

Baca juga: Bulan Bisa Timbulkan Gempa Bumi Besar

Interogator laser bekerja dengan mengirimkan dorongan sinar laser menuju serat. Perangkat tersebut kemudian mengamati backscatter (pantulan gelombang, partikel, atau sinyal kembali ke arah datang) cahaya. Jika ada pergeseran waktu pada backscatter, maka ini berhubungan terhadap perpindahan serat saat berkontraksi. Perpindahan tersebut muncul saat Bumi bergerak seperti saat terjadi gempa.

Sebuah interogator laser dapat mencakup sekira 40 kilometer serat. Hal ini memberi kesetaraan pada penilaian sensor virtual setiap beberapa meter dan memungkinkan penilaian secara terus-menerus.

Konsep ini telah ditetapkan melalui sebuah studi proof-of-concept. Pada saat itu para ilmuwan mencatat getaran seismik dalam lingkaran serat optik sejauh 4,8 kilometer yang terletak di bawah kampus Universitas Stanford.

Data tersebut telah dikumpulkan sejak September 2016, dengan lebih dari 800 aktivitas yang tercatat hingga sekarang, termasuk dua gempa lokal kecil dengan magnitude 1,6 dan 1,8.

Dengan sensitivitasnya, jaringan tersebut bisa membedakan dua jenis gelombang yang bergerak melintasi Bumi. Jenis gelombang itu adalah Gelombang P dan Gelombang S.

Gelombang P bersifat kurang kuat dan muncul lebih awal. Sedangkan Gelombang S bersifat lebih kuat. Berdasarkan analisis data, pendekatan ini kemungkinan besar akan dilakukan dalam skala yang lebih luas.

Heboh Penampakan UFO di Laboratorium NASA

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini