Share

OKEZONE INNOVATION: Yuk Intip! Sejarah Inframerah yang Diungkap oleh Penemu Planet Uranus

Lely Maulida, Jurnalis · Rabu 22 November 2017 20:28 WIB
https: img.okezone.com content 2017 11 22 56 1818811 okezone-innovation-yuk-intip-sejarah-inframerah-yang-diungkap-oleh-penemu-planet-uranus-XTylDvTVvm.jpg (Foto: BBC)

JAKARTA – Inframerah kini memang tak banyak lagi digunakan oleh pengguna ponsel untuk mentransfer data. Meski begitu, teknologi ini sejatinya masih banyak diterapkan untuk mendukung fitur smartphone.

Misalnya saja pada teknologi pemindai wajah yang digunakan oleh Apple pada flagship-nya iPhone X. Teknologi itu tak akan bisa berjalan tanpa adanya dukungan inframerah.

Inframerah sendiri ditemukan oleh astronom Sir William Herschel pada abad ke-19. Namanya juga melambung setelah ia menemukan planet Uranus. Herschel akrab dengan penemuan Newton bahwa sinar matahari dapat dipisahkan menjadi komponen kromatis terpisah melalui pembiasan kaca prisma.

Ia berhipotesis bahwa warna itu mungkin mengandung tingkat panas yang berbeda, sehingga ia merancang eksperimen untuk menguji teorinya. Herschel melewati sinar matahari melalui kaca prisma untuk menciptakan spektrum dan mengukur suhu dari berbagai warna.

Herschel menggunakan tiga termometer dengan lampu gelap dan meletakkan satu bola lampu di masing-masing warna sementara dua lainnya ditempatkan di luar spektrum sebagai kontrol.

Saat mengukur suhu cahaya ungu, biru, hijau, kuning, oranye dan merah, ia memperhatikan bahwa semua warna memiliki suhu yang lebih tinggi daripada kontrol dan bahwa suhu meningkat dari ungu ke bagian spektrum merah.

Setelah memahami pola ini, Herschel mengukur suhu di luar bagian merah spektrum dan mendapati daerah ini memiliki suhu tertinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan itu mengandung panas paling banyak.

Apa yang ditemukan Herschel adalah bentuk cahaya di luar lampu merah. Eksperimen Herschel selanjutnya mengarah pada penemuan cahaya inframerah.

Infrared adalah bagian, atau "band" dari cahaya tak kasat mata yang ditemukan pada spektrum elektromagnetik. Ini adalah bentuk panas yang bisa juga disebut "energi inframerah”. Sekitar 80% sinar matahari benar-benar jatuh dalam spektrum ini.

Spektrum elektromagnetik sendiri adalah keseluruhan rentang energi radiasi, yang diukur sebagai gelombang atau frekuensi. Ini dibagi menjadi tiga segmen dengan panjang gelombang yang diukur dalam mikron.

Panjang gelombang 0,076-1,5 mikron adalah "di dekat" inframerah, 1,5-5,6 mikron inframerah "tengah", sementara 5,6-1000 mikron "jauh" dari inframerah (FIR). Band cahaya tak terlihat ini menghangatkan benda tanpa menghangatkan udara di sekitarnya.

Panas inframerah sendiri merupakan energi yang benar-benar aman yang menaikkan suhu pada benda tanpa harus memanaskan udara di sekitarnya. Sekira 80% sinar matahari jatuh ke kisaran inframerah, dan tak berbahaya bagi kulit layaknya sinar ultraviolet.

Energi inframerah tidak terlihat oleh mata manusia namun bisa dilihat dengan kamera khusus yang menterjemahkan cahaya menjadi warna yang terlihat. Tubuh manusia memancarkan energi inframerah jauh melalui kulit di antara 3-50 mikron.

Pengaplikasian inframerah dimulai pada awal hingga pertengahan abad 20 di Jerman, dan telah dikembangkan secara aktif oleh dokter dan terapis Jepang selama 40 tahun terakhir. Sejak awal tahun 1980an, terapi inframerah telah disempurnakan dan dijual di Amerika Serikat serta banyak negara Eropa lainnya.

Kini teknologi itu juga terus dikembangkan pada berbagai perangkat teknologi seperti yang diterapkan Apple. Demikian dilansir dari berbagai sumber. (lnm).

Baca Juga: Sinergi KKP dan TNI AL Berantas Penyelundupan BBL Ilegal di Batam

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini