Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tagar #RadioGueMati Jadi Trending Topic, Nih Kilas Balik Radio di Nusantara

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Senin 11 Desember 2017 14:07 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 11 57 1828479 tagar-radioguemati-jadi-trending-topic-nih-kilas-balik-radio-di-nusantara-lBzNlMUesT.jpg Ilustrasi radio (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Radio merupakan salah satu media informasi tertua, bahkan amat berjasa dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Tepat tiga bulan lalu, 11 September 2017, Indonesia memperingati Hari Radio Nasional.

Pagi ini, pukul 07.45 WIB radio di Jakarta melakukan sebuah gerakan istimewa yang unik dan mengejutkan masyarakat, khususnya para pendengar setia radio. Dalam rangka mengenang Hari Radio Nasional, radio Jakarta mematikan siarannya selama 15 menit.

Sontak fenomena tersebut membuat para pendengar radio terkejut sekaligus takjub atas dedikasi mereka dalam mencanangkan kampanye Hari Radio Nasional.

Tweet bertagar #RadioGueMati pun sukses menjadi trending topic teratas di Twitter, diiringi banjirnya pujian dan ucapan perayaan Hari Radio Nasional.

Baca juga:  Keren! Nih Sejarah Penemuan Gelombang FM Radio yang Lahir dari Kegigihan

Hari Radio Nasional sering pula disebut dengan Hari Radio Republik Indonesia (RRI). RRI merupakan radio nasional pertama yang didirikan pada 11 September 1945.

Lantas, bagaimana kilas balik kisah radio nusantara yang telah mengudara selama 72 tahun itu?

RRI berdiri setelah Radio Hoso Kyoku pada 19 Agustus 1945, resmi dihentikan. Teknologi yang terbatas serta tak adanya sarana informasi saat itu membutakan masyarakat dalam mengakses berita pada pasca kemerdekaan.

Ketika itu, radio-radio mancanegara tengah menyatakan bahwa tentara Inggris mengatasnamakan sekutu akan segera menduduki tanah Jawa dan Sumatera. Mereka akan melucuti Jepang dan menjaga kemanan hingga Belanda mengemban kekuasaannya kembali di Indonesia. Mereka pun masih mengakui kedaulatan Belanda atas Indonesia, dan pemerintahan Netherlands Indie Civil Administration (NICA) akan Belanda dirikan.

Mengantisipasi situasi tersebut, tokoh-tokoh yang pernah aktif di radio pada masa penjajahan Jepang menyadari bahwa bangsa ini membutuhkan alat untuk mendistribusikan informasi, berkomunikasi, dan menuntun masyarakat untuk bertindak.

Baca juga: Ternyata, Headphone Pertama Diciptakan Bukan untuk Masyarakat Biasa, Ini Sejarahnya!

Delapan wakil dari bekas Radio Hosu Kyoku berinisiatif mengadakan pertemuan di Jakarta. Delegasi tersebut yakni, Adang Kadarusman, Abdulrachman Saleh, Soetarji Hardjolukita, Soehardi, Soemardi, Maladi, Harto, dan Sudomomarto.

Eks gedung Raad Van Indje Pejambon menjadi saksi perkumpulan tersebut pada 11 September 1945, bersama sekretaris negara. Sang ketua delegasi, Abdulrachman Saleh mengimbau pemerintah untuk mendirikan radio sebagai alat komunikasi antara pemerintah dan rakyat, dalam mengantisiasi mendaratnya sekutu di Jakarta akhir September 1945.

Meskipun terdapat beberapa pertimbangan dalam diskusi, pertemuan tersebut diakhiri dengan tercapainya beberapa keputusan. Mereka sepakat membentuk Persatuan Radio Republik Indonesia yang nantinya meneruskan penyiaran dari delapan stasiun di Jawa, mendirikan RRI sebagai sarana komunikasi dengan rakyat, serta mengimbau bahwa Abdulrachman Saleh akan menyalurkan semua hubungan antara pemerintah dan RRI.

Delegasi dari delapan stasiun radio di Jawa berdiskusi di rumah Adang Kadarusman, pukul 24.00 WIB. Para delegasi tersebut, yakni Maladi dan Soetardi Hardjolukito dari Surakarta; Soehardi dan Harto dari Semarang; Soemarmad dan Soedomomarto dari Yogyakarta; Soetaryo dari Purwokerto; serta Darya, Sakti Alamsyah dan Agus Marahsutan dari Bandung.

Rapat tersebut berujung pada keputusan, yaitu RRI didirikan dengan Abdulrachman Saleh sebagai pemimpin. Hingga kini, RRI tetap eksis mengudara bersama radio-radio ternama lainnya yang kerap berperan penting dalam dunia informasi dan komunikasi nusantara.

Perkembangan zaman yang diiringi dengan bertambah mutakhirnya teknologi memungkinan seluruh masyarakat mendengarkan radio dari mana saja, mulai dari ponsel, mobil, hingga televisi pun terdapat layanan radio.

Peran radio juga kian meluas, tak hanya sekadar menyebarkan berita saja. Kini, berbagai hiburan, ilmu pengetahuan, iklan layanan masyarakat, musik-musik favorit, hingga wawancara eksklusif bisa dinikmati dengan mudah.

Jika radio menghentikan siaran selama 15 menit pagi tadi mampu menggemparkan masyarakat, bisakah Anda bayangkan apa jadinya jika radio tak lagi mengudara?

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini