Ada 120 Meteor Geminids per Jam akan Hiasi Langit Malam Ini

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 13 Desember 2017 09:36 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 12 56 1829407 ada-120-meteor-geminids-per-jam-akan-hiasi-langit-malam-ini-rdXn9XJIoZ.jpg Ilustrasi meteor (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Asteroid bernama 3200 Phaeton dengan lebar lima kilometer akan mendekati Bumi pekan ini, seiring dengan hujan meteor Geminids yang menakjubkan. Meteor akan menghujani Bumi pada Rabu 13 Desember 2017 malam.

Hujan meteor Geminids bisa menampakkan hingga 120 bintang jatuh per jam. Fenomena ini merupakan salah satu yang paling spektakuler sepanjang tahun, dengan bintang jatuh yang amat terang dan mudah dilihat dari seluruh belahan dunia.

3200 Phaethon yang disebut ‘berpotensi berbahaya’ oleh NASA ini akan melewati Bumi dengan jarak 6,4 juta mil, yang mana dianggap sangat dekat menurut bidang antariksa.

Geminids akan tampak sebagai seberkas cahaya di langit gelap, dan dalam beberapa tahun terakhir menampilkan sekira 60 hingga 120 meteor per jam. Geminids dominan sedikit lebih besar dibandingkan butiran pasir, tapi mampu memancarkan cahaya terang saat memasuki atmosfer planet ini.

Baca juga: Air Panas Lebih Cepat Beku ketimbang Air Dingin, Benarkah?

Waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah Rabu 13 Desember malam. Puncaknya yaitu pada Kamis 14 Desember pukul 02.00 pagi, dan tak masalah di mana pun Anda berada, meteor tersebut akan terlihat setelah pukul 10 malam.

Rasi bintangnya, Geminids, yang merupakan titik terang hujan meteor, mencapai puncak tertingginya Kamis dini hari. Umumnya, semakin tinggi rasi bintang, semakin banyak pula meteor yang terlihat.

Anda juga bisa menyaksikan sekira 30 – 60 meteor per jam pada Selasa malam. Pada Kamis malam akan tampak 15 hingga 30 meteor, dan pada Jumat hanya muncul satu atau dua, menurut Space.com.

Meteor Geminids melintas dengan cukup perlahan, yakni 35 kilometer per detik. Anda tidak perlu peralatan khusus untuk menyaksikannya karena ia tampak terang dan memiliki rona kekuningan sehingga mudah dikenali.

Hujan meteor ini disebabkan oleh 3200 Phaethon. Objek luar angkasa ini telah membingungkan para ilmuwan karena memiliki fitur asteroid dan komet.

Baca juga: 800 Juta Kali Lebih Besar dari Matahari, Black Hole Terjauh Ini Telah Ditemukan

Para ilmuwan melihat debu bergulir dari batuan tersebut yang menyerupai ekor es pada komet. Namun, orbit Phaethon menempatkan asalnya di wilayah antara Mars dan Jupiter, tempat asteroid berasal.

"Rupanya, asteroid ini pernah menjadi sebuah objek yang lebih besar,” kata Immanuel Kant Baltic Federal University.

Ia menuturkan, karena pendekatannya terhadap Matahari, maka objek tersebut luruh menjadi potongan-potongan kecil yang akhirnya menjadi hujan meteor ini. Jika demikian, asteroid itu sendiri bisa menjadi residu inti komet. Demikian dilansir dari Daily Mail, Rabu (13/12/2017).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini