Teknologi AI Temukan Planet Asing di Luar Angkasa, Kok Bisa?

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Sabtu 16 Desember 2017, 14:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2017 12 15 56 1831083 teknologi-ai-temukan-planet-asing-di-luar-angkasa-kok-bisa-yO8qMVPyIr.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Sebuah algoritma artificial intelligence (AI) menyelidiki data dari teleskop antariksa Kepler dan menemukan planet yang mengorbit Kepler 90 – bintang pertama selain Matahari yang menjadi tuan rumah delapan planet lainnya.

Temuan yang diumumkan di telekonferensi NASA pada 14 Desember ini menunjukkan bahwa kode komputer cerdas ini mampu membantu menemukan tata surya lainnya di luar sana.

"Menemukan sistem yang memiliki sejumlah planet seperti ini adalah cara yang sangat rapi untuk menguji teori pembentukan dan evolusi planet," kata Jeff Coughlin, astronom di SETI Institute di Mountain View, dan NASA’s Ames Research Center di Moffett Field, California.

Baca juga: Aplikasi Tinder Bakal Didukung Teknologi AI, Seperti Apa?

Kepler 90 adalah bintang yang serupa Matahari, berjarak 2.500 tahun cahaya dari Bumi di rasi bintang Draco. Penemuan terakhir dari Kepler 90 adalah adanya sebuah planet berbatu berukuran 30% lebih besar dari Bumi, bernama Kepler 90i. Kepler 90i merupakan planet ketiga dari Matahari tersebut, dengan suhu permukaan lebih dari 400 derajat celcius.

Tujuh planet lainnya dalam tata surya ini berukuran dari kecil, berbatu seperti Kepler 90i, hingga berupa gas raksasa. Semua itu berada pada jarak yang lebih dekat dengan Mataharinya, dibandingkan dengan Bumi dan Matahari. Kepler 90 sangat mungkin memiliki lebih banyak planet.

"Masih banyak yang belum tereksplorasi dari sistem itu," kata rekan penulis penelitian, Andrew Vanderburg, seorang astronom di University of Texas di Austin.

Baca juga: Mantap! Microsoft Canangkan Teknologi AI Bantu Penyandang Disabilitas

Para astronom telah mengidentifikasi lebih dari 2.300 planet baru di data Kepler. Kepler telah mengumpulkan terlalu banyak data sehingga manusia atau program komputer biasanya hanya memverifikasi sinyal yang paling menjanjikan di antaranya.

Vanderburg dan Christopher Shallue, seorang insinyur software di Google, di Mountain View, California, merancang sebuah kode komputer yang disebut jaringan syaraf tiruan. Teknologi tersebut meniru cara kerja otak manusia memproses informasi, untuk mencari exoplanet yang terabaikan.

Para peneliti sebelumnya mengotomatisasi analisis data Kepler dengan program hard-coding untuk mendeteksi sinyal exoplanet. Di sini, Vanderburg dan Shallue menyediakan kode dengan lebih dari 10.000 sinyal Kepler, yang telah ditandai oleh ilmuwan manusia sebagai sinyal exoplanet atau non-exoplanet.

Jaringan saraf kemudian mempelajari dengan sendirinya seperti apa sinyal cahaya dari planet exoplanet, lalu mampu mengenali ciri khas dari exoplanet pada sinyal yang sebelumnya terabaikan.

Saat ini Vanderburg dan Shallue berencana untuk menggunakan jaringan saraf pada data tersembunyi Kepler yang mencakup 150.000 bintang, untuk mengetahui keberadaan exoplanet lainnya yang belum terdeteksi. Demikian dilansir dari Science News, Jumat (15/12/2017).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini