2018, Tepi Lubang Hitam Terlihat via Teleskop Luar Angkasa

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 20 Desember 2017 01:01 WIB
https: img.okezone.com content 2017 12 19 56 1832743 2018-tepi-lubang-hitam-terlihat-via-teleskop-luar-angkasa-p0rxmJ4GBw.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Para ilmuwan dengan Event Horizon Telescope, sebuah 'teleskop seukuran Bumi virtual', berharap bisa melihat tepi lubang hitam supermasif di pusat galaksi pada 2018. Mereka berharap dapat mengungkap wawasan tentang peran objek-objek ini dalam evolusi semesta.

Event Horizon Telescope mulai mengamati lubang hitam supermasif Bima Sakti, yang dikenal sebagai Sagitarius A, pada April. Dalam beberapa bulan terakhir, mereka telah bekerja untuk memproses data awal, data yang ditunggu-tunggu dari teleskop Kutub Selatan terssebut akhirnya tiba di MIT Haystack Observatory, yang berarti, data dari April 2017 telah lengkap.

Baca juga: Unik! Pesawat Luar Angkasa Terinspirasi dari Origami

Kerjasama internasional akan berkembang tahun depan, termasuk penambahan Teleskop Greenland pada 2018. Para peneliti dalam proyek Event Horizon Telescope memperkirakan akan mendeteksi 'siluet dalam cahaya radiasi di pusat Galaksi Bima Sakti', pada 2018.

Sebuah simulasi yang menakjubkan juga diunggah di Twitter. Simulasi itu mengungkap seperti apa lubang hitam jika berada di kondisi yang berbeda, termasuk gambar-gambar terbaik yang ditangkap oleh EHT.

“Sekira panjang gelombang 1 milimeter, cakram tambahan berubah menjadi transparan dan kita bisa melihat siluet lubang hitam, yang mana optimal bagi pengamatan EHT,” menurut tweet Event Horizon Telescope.

Baca juga: ISS Punya Alat Pendeteksi Puing Rongsokan di Luar Angkasa

Jika para ilmuwan berhasil membuat citra Sagitarius A, terobosan tersebut akan menjadi kunci bagi teori gravitasi Einstein. Sagitarius A berjarak 26.000 tahun cahaya dari Bumi, sekira 20 juta kilometer, dikutip dari Daily Mail, Selasa (19/12/2017).

Para ilmuwan berharap teleskop ini dapat menangkap peristiwa horizon (event horizon) untuk pertama kali. Teleskop itu bergantung pada jaringan antena radio di seluruh dunia, mulai dari Kutub Selatan, Hawaii, hingga Amerika, dan Eropa.

“Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bukanlah ide yang bagus untuk bertaruh melawan Einstein. Namun, jika kami melihat sesuatu yang sangat berbeda dari apa yang kami harapkan, kami harus menilai kembali teori gravitasi,” tutur pemimpin proyek, Sheperd Doeleman, dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics, di Cambridge.

Di masing-masing stasiun radio ada hard drive besar yang akan menyimpan data. Hard drive ini akan diproses di MIT Haystack Observatory di luar Boston, Massachusetts. Proses tersebut akan memakan waktu lama dan akan selesai pada akhir tahun ini, atau awal 2018.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini