Isi Ulang Baterai Smartphone Pakai Urine, Bagaimana Caranya?

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Kamis 28 Desember 2017 17:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2017 12 28 56 1836948 isi-ulang-baterai-smartphone-pakai-urine-bagaimana-caranya-FxYBzRctjz.jpg (Foto: The Atlantic)

JAKARTA - Bertambah canggihnya smartphone membutuhkan daya baterai yang lebih kuat untuk mengakomodasi kinerja prosesor yang semakin cepat dan display berdefinisi tinggi. Oleh karena itu, permasalahan yang kian muncul, yaitu para pengguna harus menjaga daya baterai agar terpenuhi sepanjang hari.

Profesor Ioannis Ieropoulos, seorang peneliti di University of the West of England telah menciptakan cara untuk mengisi ulang baterai tanpa mengandalkan outlet listrik. Ia menemukan sumber energi yang tidak biasa untuk mengisi daya baterai, yakni urine.

Gagasan ini ditemukan pertama kali oleh Ieropoulos, tetapi diciptakan berdasarkan konsep sains yang telah ada. Prototipe tersebut memiliki sel bahan bakar yang mengandung mikroorganisme, seperti yang ada di tanah dan usus manusia.

Baca juga: Isi Ulang Baterai Smartphone Tidak Boleh Terlalu Full, Kok Bisa?

Saat mikroorganisme itu menyentuh urine, ia akan menguraikan cairan tersebut. Prosesnya menimbulkan elektron yang kemudian tersalurkan menjadi aliran listrik yang berguna.

Pengujian terakhir menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu enam jam pengisian baterai untuk memadai waktu tiga jam berbicara melalui smartphone.

Sel bahan bakar bertenaga urine mungkin terdengar menjijikan, tetapi terdapat pula cara murah lain untuk menghasilkan listrik dari sumber daya terbarukan. Profesor Ieropoulos mengembangkan sel bahan bakar dengan biaya USD2,65.

Baca juga: Nih, Cara Cegah Baterai Smartphone Agar Tak Cepat Boros

Selama pengguna smartphone bisa menghasilkan 600ml urine, smartphone tersebut akan mampu menyala tanpa perlu menyambungkan ke jaringan listrik. Selain terjangkau, teknologi ini bersifat ramah lingkungan.

"Teknologi ini sangat ramah lingkungan, karena kita tidak perlu memanfaatkan bahan bakar fosil dan kita menggunakan produk limbah yang banyak persediaannya," ujar Ieropoulos, dikutip dari Mirror.co.uk, Kamis (28/12/2017).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini