Cokelat Diperkirakan Lenyap 40 Tahun Lagi

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Kamis 04 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 03 56 1839375 cokelat-diperkirakan-lenyap-40-tahun-lagi-Sl87QjXmWN.jpg (Foto: Reuters)

CALIFORNIA - Suhu hangat yang meningkat dan kondisi cuaca yang semakin kering diduga akan menjadi faktor lenyapnya tanaman kakao pada 2050. Hal ini membuat para ilmuwan dari Universitas California di Berkeley bekerjasama dengan pabrik Mars Incorporated di Virginia, untuk mencegah hilangnya cokelat di masa depan.

Teknologi baru, bernama CRISPR, sedang digunakan oleh ilmuwan UC Berkeley untuk memodifikasi DNA tanaman. Bibit kecil tanaman akan mampu bertahan di iklim yang berbeda jika percobaan ini terbukti berhasil.

Tanaman kakao berasal dari jutaan tahun silam di Amerika Selatan. Tanaman ini hanya mampu tumbuh di dataran rendah hutan hujan yang hijau, yang memiliki suhu hangat dan curah hujan berlimpah.

Baca juga: Sapi di Australia Diberi Makan Cokelat dan Permen

Namun, tanaman ini juga sering menjadi korban penyakit jamur dan perubahan iklim. Lebih dari separuh cokelat di dunia kini berasal dari dua negara di Afrika Barat, yaitu Pantai Gading dan Ghana. Sayangnya, kawasan tersebut akan menjadi tidak cocok bagi tanaman kakao.

Mars Incorporated sangat menyadari masalah ini dan isu lainnya terkait perubahan iklim. Perusahaan membuat janji sebesar USD1 miliar untuk mengurangi jejak karbon lebih dari 60%, dalam sebuah rencana yang disebut ‘Sustainability in a Generation’.

Baca juga: Bentuk Cokelat Berubah, Netizen Murka

Perusahaan bertujuan untuk menyelesaikan tugas ini pada 2050. Keputusan Mars untuk berkolaborasi dengan ilmuwan UC Berkeley adalah bagian dari inisiatif tersebut.

Jennifer Doudna, ahli genetika yang menciptakan CRISPR, mengawasi upaya kolaborasi dengan Mars, perusahaan Snickers dan M & M's. Sementara dia menyadari bahwa beberapa risiko dapat datang dengan teknologi ini.

Doudna percaya bahwa hal itu dapat secara signifikan mempengaruhi makanan yang dikonsumsi orang-orang setiap hari. Demikian dilansir dari International Business Times.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini