Astronot Identifikasi Mikroba di Luar Angkasa untuk Pertama Kalinya

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 03 Januari 2018, 18:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 03 56 1839418 astronot-identifikasi-mikroba-di-luar-angkasa-untuk-pertama-kalinya-dUooULy513.jpg (Foto: NASA)

JAKARTA - NASA sedang mengidentifikasi mikroba di stasiun luar angkasa untuk pertama kalinya, berkat proyek Genes in Space-3. Penelitian ini dapat membantu mendiagnosis penyakit astronot, mempelajari bagaimana mikroba bertahan hidup dalam gravitasi mikro, dan bahkan mencari tahu kehidupan di luar Bumi.

Mikroba tersebut ternyata biasa ditemukan di Bumi. Namun, teknik tersebut terbukti bekerja di luar angkasa, dan tidak ada yang tahu apa yang mungkin ditemukan oleh astronot berikutnya.

Sebelumnya, satu-satunya cara untuk mengidentifikasi mikroba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) adalah mengirimnya kembali ke Bumi untuk diuji. Mikroba telah diurutkan di ISS, tetapi sampel tersebut sudah disiapkan di Bumi sebelumnya.

Baca juga: NASA Selidiki Mikroba di Stasiun Luar Angkasa

Ada lebih banyak mikroba di luar angkasa daripada yang pernah Anda bayangkan. Peralatan luar angkasa telah disterilkan dengan baik di Bumi sebelum diluncurkan, tetapi teknik yang paling ekstrem hanya dapat mengurangi jumlah mikroba menjadi 300 per meter persegi.

Mengingat bahwa mikroba tersebut mampu bertahan di ruang hampa udara, di luar ISS, hal itu dapat dengan cepat mengidentifikasi apakah mereka berasal dari Bumi atau bukan. Sejauh ini, semua mikroba yang ditemukan di ISS berasal dari Bumi.

Terdapat dua langkah dalam mengidentifikasi mikroba. Pertama, astronot NASA dan ahli biokimia, Peggy Whitson, harus mengumpulkan sampel dan mengarahkannya ke Polymerase Chain Reaction (PCR), sebuah teknik yang memperkuat sampel DNA untuk membuat banyak salinannya.

Baca juga: Ilmuwan Temukan Bakteri Hidup di Stasiun Luar Angkasa

Langkah kedua adalah mengurutkan dan mengidentifikasi mikroba. Untuk melakukan ini, Whitson menggunakan cawan petri untuk mengumpulkan sampel dari berbagai permukaan di sekitar ISS. Kemudian, membiarkan sampel tumbuh selama seminggu sebelum memindahkannya ke tabung kecil di dalam Microgravity Science Glovebox – ini pertama kali dilakukan di luar angkasa.

Cuaca di Bumi mengancam percobaan tersebut saat Badai Harvey sempat memblokir ahli mikrobiologi dari laboratorium mereka di Johnson Space Center, sehingga mereka harus mencari solusi dan akhirnya terhubung dengan ponsel pribadi Wallace.

“Tak lama, kami melihat satu mikroorganisme muncul, dan kemudian yang kedua, dan mereka adalah hal-hal yang selalu kami temukan di stasiun luar angkasa," kata Wallace, dikutip dari Science Alert, Selasa (2/1/2018).

Dalam kasus ini, mikroba tersebut merupakan sesuatu yang biasa, yang umumnya terdapat di kehidupan manusia. Namun, konfirmasi selanjutnya harus menunggu sampai sampel dapat kembali ke Bumi dan diuji ulang untuk memastikannya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini