Teknologi AI Mampu Baca Pikiran Manusia, Kok Bisa?

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Jum'at 05 Januari 2018 08:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 01 04 207 1840057 teknologi-ai-mampu-baca-pikiran-manusia-kok-bisa-rUaoDqFBYH.jpg (Foto: Kamitani Lab/Kyoto University)

TOKYO - Ilmuwan Jepang telah menciptakan mesin yang bisa ‘membaca’ pikiran manusia dengan akurasi yang luar biasa. Teknologi AI mempelajari sinyal listrik di otak manusia untuk menentukan gambaran apa yang sedang dilihat dan bahkan dipikirkan.

Temuan ini dirancang oleh para peneliti dari Laboratorium Kamitani di Universitas Kyoto, dipimpin oleh Profesor Yukiyasu Kamitani. Para ahli menggunakan jaringan syaraf tiruan untuk membuat gambar berdasarkan informasi dari pemindaian fMRI (Functional Magnetic Resonance Imaging), yang mendeteksi perubahan aliran darah untuk menganalisa aktivitas listrik.

Dengan menggunakan data ini, mesin tersebut dapat merekonstruksi burung hantu, pesawat terbang, jendela, kotak pos merah, dan objek lainnya, setelah tiga sukarelawan menatap gambar-gambar tersebut, sebagaimana dilaporkan oleh Daily Mail, Kamis (4/1/2018).

Baca juga: Teknologi AI Temukan Planet Asing di Luar Angkasa, Kok Bisa?

Secara teoritis, teknik itu dapat menciptakan rekaman kenangan, lamunan, dan gambaran batin atau psikis lainnya. Ini juga bisa membantu pasien pengidap kondisi vegetatif persisten (kondisi sadar secara parsial tetapi tidak menunjukan persepsi dan reaksi kognitif terhadap rangsangan sekitar) untuk berkomunikasi dengan orang lain.

“Di sini, kami mempersembahkan metode rekonstruksi citra baru. Nilai piksel sebuah gambar dioptimalkan untuk membuat fitur Deep Neural Network yang serupa dengan penerjemahan oleh aktivitas otak manusia di banyak lapisan," kata para penulis penelitian yang telah terbit di BioRxiv.

Baca juga: Mantap! Microsoft Canangkan Teknologi AI Bantu Penyandang Disabilitas

Mereka mengatakan, mesin tersebut menghasilkan gambar yang menyerupai gambar stimulus (baik objek alami maupun buatan) dan konten visual subjektif selama pencitraan.

"Sementara model kami hanya dilatih dengan gambar alami, metode kami berhasil menggeneralisasi rekonstruksi menjadi bentuk buatan, yang mengindikasikan bahwa model kami memang 'merekonstruksi' atau 'menghasilkan' gambar dari aktivitas otak manusia, bukan sekadar mencocokkan dengan contoh gambar,” jelasnya.

Mesin tersebut bergantung pada jaringan syaraf tiruan, yang mencoba menyimulasikan cara kerja otak agar bisa mempelajarinya. Jaringan saraf buatan tim Kyoto telah dilatih dengan 50 gambar alami dan hasil fMRI dari relawan yang menatapnya. Alat tersebut kemudian menciptakan kembali gambar yang dilihat oleh para sukarelawan.

Mereka kemudian menggunakan tipe kedua dari AI yang disebut Deep Generative Network, untuk memeriksa apakah gambar-gambar itu tampak seperti asli, membuatnya lebih mudah dikenali. Profesor Kamitani sebelumnya menjadi sorotan setelah decoder fMRI-nya mampu mengidentifikasi benda-benda yang dilihat atau dibayangkan oleh relawan dengan sangat akurat.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini