Bumi Menjadi Gurun Pasir pada 2050, Benarkah?

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018 08:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 09 56 1842557 bumi-menjadi-gurun-pasir-pada-2050-benarkah-2Yx1OwL7FT.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Dunia akan dilanda kekeringan ekstrem jika pemanasan global tidak segera dihentikan. Itulah sebuah pesan dari penelitian lingkungan yang diterbitkan oleh jurnal Nature Climate Change.

Lebih dari 25% Bumi akan mulai mengalami dampak ‘aridifikasi’ (proses mengeringnya suatu wilayah dengan perubahan jangka panjang) pada 2050, jika manusia tidak memenuhi perubahan yang diusulkan oleh kesepakatan iklim Paris. Penelitian tersebut mengklaim, jika suhu rata-rata Bumi naik dua derajat celsius selama 32 tahun ke depan, planet ini akan menjadi gurun pasir.

"Penelitian kami memprediksi bahwa aridifikasi akan berkembang sekira 20%-30% di permukaan Bumi, pada saat perubahan suhu rata-rata global mencapai 2 derajat celsius. Namun, dua pertiga daerah yang terkena dampak dapat menghindari aridifikasi jika pemanasan terbatas pada 1,5 derajat celsius," kata Manoj Joshi, peneliti utama.

Baca juga: Ilmuwan Ungkap Pandangan Baru soal Terciptanya Bumi dan Mars

Penelitian tersebut kemudian menunjukkan bahwa mengurangi emisi gas rumah kaca akan menjaga pemanasan global di bawah ambang batas 2 derajat, dan mengurangi kemungkinan terjadinya aridifikasi. Sebuah audit U.N tahunan tentang kemajuan tujuan tersebut mengungkapkan, emisi akan menjadi 53-55,5 miliar ton karbon dioksida per tahun pada 2030, jauh di atas ambang batas 42 miliar ton, untuk menghindari kenaikan 2 derajat.

Baca juga: Ternyata Laut sebagai Awal Kehidupan di Bumi

Jennifer Morgan, direktur eksekutif Greenpeace International, mengatakan bahwa iklim dengan angin topan, banjir, dan kekeringan akan memburuk dengan cepat, kecuali para menteri berkomitmen untuk mengurangi bahan bakar fosil.

Penelitian Nature Climate Change memprediksi daerah yang akan terkena pengaruh besar oleh kenaikan suhu rata-rata. Wilayah tersebut yakni berada di Amerika Tengah, Asia Tenggara, Eropa Selatan, Afrika Selatan, dan Australia Selatan. Demikian dilansir dari Mirror.co.uk, Selasa (9/1/2018).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini