Serangga Bisa Terbang hingga Ketinggian 9.000 Meter

Qonita Chairunnisa, Jurnalis · Rabu 10 Januari 2018 09:27 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 01 09 56 1842571 serangga-bisa-terbang-hingga-ketinggian-9-000-meter-3X0T5FvpEd.jpg Ilustrasi lebah (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Burung bukan satu-satunya hewan yang bisa terbang hingga ketinggian luar biasa. Para ilmuwan telah mengungkap, serangga juga mampu terbang mencapai ketinggian yang menakjubkan.

Burung dengan kemampuan terbang paling tinggi, yakni burung bangkai ruppel, mampu mencapai ketinggian hingga 11.278 meter. Ternyata, serangga juga mampu terbang lebih tinggi dari yang Anda pikirkan.

Para ilmuwan telah mengumpulkan belalang yang terbang di ketinggian 4.500 meter.  Kepik sejati, lalat batu, lalat capung, dan lalat kadis mampu terbang di ketinggian 5.000 meter, sedangkan lalat dan kupu-kupu di atas 6.000 meter, menurut Michael Dillon, seorang peneliti di Departemen Zoologi dan Fisiologi, University of Wyoming.

Di ketinggian tersebut, serangga-serangga yang terbang menghadapi tantangan yang sama dengan burung. "Suhu rendah, oksigen rendah, dan kepadatan udara rendah," kata Dillon kepada Live Science.

Baca juga: Mengapa Orang Suka Menonton Film Horor?

Serangga sangat bergantung pada pernapasan aerobik untuk memenuhi kebutuhan energi. Artinya, mereka harus menyediakan cukup oksigen ke jaringan mereka agar berfungsi.

“Mengurangi oksigen di tempat tinggi dapat menantang kemampuan pernapasan mereka," kata Dillon. Selain itu, bila kepadatan udara rendah, sayap serangga perlu bekerja lebih keras untuk menghasilkan daya angkat atau terbang.

Dillon turut menulis sebuah penelitian pada 2014 yang terbit dalam jurnal Biology Letters, mengenai kemampuan terbang yang tidak biasa dari lebah bumblebee alpine. Dengan menempatkan lebah di sebuah ruangan yang mensimulasikan berkurangnya tekanan udara pada ketinggian tinggi, para peneliti menemukan bahwa beberapa lebah dapat terbang dalam kondisi yang mendekati ketinggian 9.000 meter, lebih tinggi dari Gunung Everest.

Para ilmuwan menggunakan kamera berkecepatan tinggi untuk memotret lebah yang terbang. Mereka menemukan hal apa yang memungkinkan serangga terbang di udara yang menipis.

"Kami dapat menunjukkan bagaimana mereka mengubah gerakan sayap untuk mengkompensasi kerapatan udara yang berkurang - mereka mengayunkannya dengan lengkungan yang lebih lebar," tutur Dillon.

Baca juga: Mengapa Mata Manusia Bisa Berwarna Biru atau Hijau?

Namun, suhu yang jauh lebih rendah di ketinggian yang lebih tinggi dari Gunung Everest dapat mencegah lebah terbang ke mencapainya, tulis para peneliti.

Dillon menyampaikan, masih banyak yang harus dipelajari dari fisiologi serangga sehingga sulit untuk menyebutkan adaptasi lebah dan serangga lainnya yang memungkinkan mereka bertahan dan terbang di ketinggian ekstrim. Demikian dilansir dari Live Science, Rabu (10/01/2018).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini