Demi Jadi Gamer Pro, Orangtua Rela Anaknya Putus Sekolah

Lely Maulida, Jurnalis · Kamis 18 Januari 2018 11:20 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 01 18 326 1846722 demi-jadi-gamer-pro-orangtua-rela-anaknya-putus-sekolah-4RJv9touav.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA – Game kini tak hanya menjadi sebuah hobi semata. Pasalnya, hobi yang menyenangkan itu bahkan bisa membuat pemainnya mendulang keuntungan.

Banyak gamer bahkan menjadikan hobinya sebagai pekerjaan. Tak ayal jika mereka semakin banyak belajar untuk menambah kemampuannya dalam bermain game.

Biasanya orang tua kerap melarang anaknya untuk menghabiskan waktu dengan bermain game demi mempelajari hal lainnya. Lain halnya dengan kebanyakan gamer, Lucas "Mendokusaii" Hakansson malah sangat didukung sang ayah untuk meningkatkan skill-nya dalam bermain game.

Hakansson bahkan diminta ayahnya untuk keluar dari sekolah demi melanjutkan hobinya bermain game. Hakansson sendiri memang memiliki kemampuan yang mumpuni, hingga menjadi gamer pro Overwatch.

Mulanya, Hakansson memang tidak berniat untuk putus sekolah, melainkan hanya cuti selama satu tahun saja meski hal itu jarang terjadi di negaranya – Swedia. Namun suatu hari ayah Hakansson – Henrik, bertemu dengan pihak sekolah.

Sepulang dari sekolah tersebut, Henrik mengatakan bahwa Hakansson tak perlu lagi cuti karena ia telah berhenti sekolah.

“Dia tidak bertanya kepadaku, tidak memberitahuku. Dia baru saja pulang dan berkata ‘Kamu tidak lagi butuh waktu satu tahun, kamu baru saja putus sekolah,” kata Hakansson dalam sebuah laga Overwatch di Los Angeles.

Diakui Hakansson, dirinya terkejut dengan keputusan sang ayah. Namun dirinya memang tak begitu unggul di sekolah, hingga disebut gagal di kelasnya.

Henrik sempat berpikir bahwa anaknya pemalas dan dengan kegemarannya bermain game akan membahayakan pendidikan hingga kehidupannya di masa mendatang. Pasalnya ayah Hakansson itu menilai game akan menyebabkan kekerasan hingga kematian sebagaimana terjadi di Korea.

Selanjutnya, Henrik memaksa Hakansson agar sesuai dengan kehendaknya. Namun anaknya tersebut malah semakin depresi karena satu-satunya prestasi yang bisa ia raih adalah dalam bermain game.

Alih-alih belajar, Lucas Hakansson yang beranjak remaja mulai bermain game dengan lebih serius. Ia terus berlatih secara konsisten bersama timnya.

Ia dan timnya juga memiliki motivasi besar yakni untuk masuk dalam liga besar. Seiring waktu, ayah Hakansson menyadari bahwa tak ada lagi hal lain yang anaknya sukai selain game termasuk karena komunikasi yang terjalin diantara keduanya.

“Aku selalu jujur padanya (ayahnya) bahkan ketika aku melakukan hal buruk. Aku yakin aku akan mendapat masalah, tapi kami selalu menghargai kejujuran lebih dari apapun," ujar Hakansson.

Henrik kemudian mencoba memasuk dunia game seperti anaknya dengan mencoba bermain game seperti Call of Duty hingga akhirnya ia mengerti anaknya dan menarik Hakansson dari sekolah.

"Dia bilang dia tidak ingin aku bermain, berlatih dan mencoba masuk ke liga besar dengan fakta bahwa, jika ini tidak berhasil, aku harus kembali ke sekolah dalam beberapa waktu. Dia ingin saya fokus pada game dan mengejar impian saya," terang Hakansson berkisah.

Setelah memutuskan untuk melepas anaknya di dunia game, Henrik terus berupa memberikan dukungan termasuk menyediakan makanan kesukaan anaknya hingga membersihkan kamarnya.

Keputusan Henrik pun membuahkan hasil. Hakansson dan timnya terus mendulang hasil yang sukses dengan memenangkan liga Overwatch.

"Jujur saja aku benar-benar beruntung memiliki ayah yang mendukungku terus menerus," ujar Lucas Hakansson.

Kini Lucas Hakansson tinggal di Los Angeles untuk bertanding lagi di Overwatch League. Jaraknya yang jauh dan perbedaan waktu dengan Swedia, membuatnya sulit untuk berkomunikasi dengan sang ayah.

Meski begitu, Henrik tetap berupaya untuk mendukung anaknya dari jarak jauh. Demikian seperti dilansir Kotaku, Kamis (18/1/2018). (lnm).

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini