nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Gerhana Bulan Total Pengaruhi Siklus Tidur Manusia

Azizah Fitria Nur Chandani, Jurnalis · Kamis 01 Februari 2018 16:35 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 02 01 56 1853315 gerhana-bulan-total-pengaruhi-siklus-tidur-manusia-hYV5C15D0U.jpg (Foto: NASA)

JAKARTA - Tepat 31 Januari 2018, fenomena Super Blue Blood Moon atau Gerhana Bulan Total muncul di beberapa negara, termasuk Indonesia. Tidak hanya berdampak pada pasang-surut air laut, fenomena Gerhana Bulan Total juga mempengaruhi siklus tidur manusia.

Dilansir dari Independent, Kamis (1/2/2018), studi Cajochen pada 2013 mengungkapkan bahwa gerhana bulan dapat berdampak pada siklus tidur seseorang. Menurut penelitian ini, gangguan tidur mulai memuncak pada saat bulan purnama yang disebabkan kadar melatonin menurun dan membuat seseorang merasa kurang segar keesokan harinya.

Studi tersebut juga menjelaskan bahwa waktu tidur secara keseluruhan menurun sekira 20 menitan di malam hari selama bulan purnama. Namun, sebagian besar penelitian masih belum menemukan beberapa hubungan antara siklus tidur dan bulan.

Seperti diketahui, Super Blue Blood Moon merupakan fenomena, di mana matahari bulan dan Bumi berada dalam satu garis lurus.

Diketahui bahwa Super Blue Blood Moon merupakan fenomena langka yang terjadi. Sekira 150 tahun yang lalu pernah terlihat di Amerika Serikat, sementara di Indonesia terlihat pada 36 tahun silam.

Baca juga: Apakah Astronot Melihat Fenomena Gerhana Bulan?

Super Blue Blood Moon muncul setelah gerhana pertama sekira pukul 17.51 WIB yang dinamakan gerhana penumbra, lalu pukul 19.00 WIB masuk gerhana sebagian, dan sekira pukul 20.00 WIB barulah tampak gerhana bulan total.

Berdampak pada Pasang-Surut

Super Blue Blood Moon berdampak kepada tinggi pasang surut air laut maksimum yang mencapai 1,5 meter yang disebabkan adanya grativasi bulan dengan matahari. Selain itu, Super Blue Blood Moon juga menyebabkan surut air laut yang mencapai 100-110 cm yang terjadi pada 30 Januari hingga 1 Februari di beberapa tempat seperti Pesisir Sumatera Utara, Sumatera Barat, Lampung Selatan, Kalimantan Barat, dan tempat lainnya.

Baca juga: Gerhana Bulan Total Terlihat di Seluruh Indonesia pada 31 Januari 2018

Tingginya pasang maksimum air laut yang disebabkan Gerhana Bulan Total ini membuat terganggunya segala kegiatan yang berada di sekitar perairan, seperti transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, aktivitas petani garam dan perikanan, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.

Ramai Pengunjung Planetarium Jakarta

Seluruh masyarakat Indonesia cukup antusias dengan fenomena ini, terbukti dari ramainya pengunjung Planetareium Taman Ismail Marzuki di Jakarta.

Menurut data yang masuk, terhitung sekira 7.000 orang mendaftar untuk melihat Super Blue Blood Moon menggunakan teleskop yang disediakan di Planetarium Taman Ismail Marzuki.

Maka, momen ini menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat dunia salah satunya adalah Indonesia. Meskipun demikian, BMKG mengingatkan kepada masyarakat terkait kondisi cuaca di Indonesia, khususnya Jakarta yang mendung dan turun hujan.

BMKG mengingatkan atau mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap wilayah yang berpotensi hujan lebat. Terutama wilayah yang rawan dengan banjir dan longsor. BMKG juga mengingatkan masyarakat terhadap kenaikan tinggi gelombang yang berpotensi rob (banjir air laut atau naiknya permukaan air laut).

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini