Riset Ungkap Anak-Anak Penyandang Disabilitas Alami Kekerasan Fisik Lebih Tinggi

Azizah Fitria Nur Chandani, Jurnalis · Minggu 04 Februari 2018 09:05 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 02 02 56 1853965 riset-ungkap-anak-anak-penyandang-disabilitas-alami-kekerasan-fisik-lebih-tinggi-kt7CojUbLG.jpg Ilustrasi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Anak-anak penyandang disabilitas di Afrika Barat mengalami kekerasan yang luar biasa dibanding rekan mereka yang lahir normal. Mereka semua mengalami kekerasan sejak mereka lahir.

Dilansir dari EurekAlert, penelitian ini diterbitkan di BMC Public Health oleh Janet Nielesani, asisten profesor yang berhubungan dengan terapi di NYU Steinhardt School of Culture, Education, dan Human Development.

Menurut Janet Nielesani, tidak adil bagi anak-anak penyandang cacat mengalami empat kali lebih mungkin mengalami kekerasan oleh rekannya sendiri. Mereka memiliki hak yang sama untuk tumbuh dengan baik, temuan tersebut akan membantu menjelaskan mengapa anak-anak penyandang cacat memiliki risiko kekerasan yang lebih besar.

Selain itu hal ini dapat menjelaskan berapa banyak anak-anak penyandang cacat di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penelitian dilakukan di negara Guinea, Niger, Sierra Leone, dan Togeo. Data yang di kumpulkan diambil dari anak-anak, anggota masyarakat, dan organisasi mengenai kecacatan. Dari beberapa negara, empat negara berpartisipasi dalam penilitian untuk memberikan dukungan kepada anak-anak penyandang cacat.

Hal ini merupakan penelitian pertama mengenai kekerasan terhadap anak-anak cacat di Afrika Barat. Sebelumnya, hanya sedikit penelitian yang dilakukan mengenai kekerasan terhadap anak-anak penyandang cacat di LMIC.

Menurut studi, kekerasan di Afrika Barat sudah dimulai sejak mereka baru lahir, karena mereka dipandang sebagai kutukan dari Tuhan dan tidak layak untuk hidup. Bahkan di wilayah tertentu masih ada praktik pembunuhan bayi.

Baca juga: Mantap! Microsoft Canangkan Teknologi AI Bantu Penyandang Disabilitas

Studi tersebut juga menemukan bahwa semua anak penyandang cacat mengalami beberapa bentuk kekerasan dari orang tua, guru, atau masyarakat. Kekerasan tersebut dialami berbeda sesuai dengan jenis gangguannya.

Anak-anak dengan gangguan visual, komunikasi, dan kognitif mengalami kekerasan terbanyak, sementara anak-anak dengan gangguan fisik mengalami sedikit kekerasan. Akibat kekerasan itulah kebanyakan dari orang tua lebih memlih untuk merawat anaknya di rumah dan tidak bersekolah sebagai bentuk untuk melindungi.

Bagi Nielesani, tidak ada kekerasan terhadap anak yang bisa dibenarkan. Keadaan yang menyebabkan kekerasan adalah stigma yang beragam dan kompleks terkait dengan kecacatan, sikap, dan persepsi bahwa anak penyandang cacat tidak layak untuk hidup.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini