8 Tren Digital Marketing di 2018, Apa Saja?

Agregasi Tech In Asia, Jurnalis · Senin 12 Februari 2018 12:06 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 02 12 207 1858216 8-tren-digital-marketing-di-2018-apa-saja-O9jvOtD3oG.jpg (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Digital marketing sesungguhnya cukup kompleks, besar, dan dinamis. Dengan maraknya penggunaan media sosial dan perkembangan teknologi di ranah digital, strategi pemasaran digital pun ikut mengalami perubahan.

Lalu, seperti apa wajah pemasaran digital di tahun ini? Kami telah merangkum delapan tren digital marketing yang diperkirakan akan semakin populer di tahun 2018.

Berkomunikasi lewat Stories

Jumlah pengguna harian aktif Instagram Stories pada November 2017 lalu menembus angka 300 juta. Artinya, sekitar enam puluh persen pengguna Instagram aktif membagikan atau mengonsumsi konten dalam Stories setiap hari. Jumlah tersebut bahkan mengalahkan Snapchat, pesaingnya yang merilis fitur serupa lebih dulu.

Instagram berhasil mengubah tren berbagi pesan secara ephemeral (pesan yang akan hilang dalam waktu tertentu) menjadi sebuah alat yang cukup efektif untuk bisnis. Sebuah penelitian menyebutkan, salah satu cara untuk membuat merek melekat di benak follower atau konsumen adalah dengan membuat Stories kamu selalu eksis di timeline mereka.

Dengan begitu, kamu dapat membuat follower mengenal merek kamu lebih dalam dan membuat mereka merasa dekat.

Lewat Stories, kamu bisa menceritakan lebih banyak hal tentang merek. Misalnya proses pembuatan suatu produk, aktivitas di kantor bersama tim, di balik layar pembuatan sebuah video promosi, atau lain sebagainya. Dengan begitu, kamu dapat membuat follower mengenal merek kamu lebih dalam dan membuat mereka merasa dekat.

Jadi, tahun ini tugas para pemasar yang aktif di Instagram bukan hanya memastikan susunan foto di feed menarik saja, namun juga membuat Stories yang atraktif untuk follower.

Dunia dalam video

Video online adalah salah satu kanal beriklan yang paling pesat pertumbuhannya. Hal ini menuntut berbagai merek menciptakan konten berkualitas tinggi. Video dengan konten terbaik yang bisa mencuri perhatian banyak konsumen akan menjadi pemenangnya.

Sepanjang tahun 2017, sembilan puluh persen konten yang dibagikan di internet berbentuk video. Cisco juga memprediksi jumlah ini masih akan terus meningkat di tahun 2018.

Lewat video, kamu bisa menyampaikan cerita yang menarik, mudah dipahami, dan membuat pesan kamu lebih mudah melekat di pikiran konsumen. Sekitar 64 persen konsumen bahkan memutuskan untuk membeli suatu produk setelah melihat video promosinya di media sosial.

Libatkan follower untuk berinteraksi, misalnya dengan beropini atau bertanya di kolom komentar.

Untuk menciptakan konten yang bisa menonjol di tengah ramainya konten video, kamu perlu memahami terlebih dahulu perilaku target atau konsumen yang hendak dituju. Beberapa aspek yang perlu kamu ketahui antara lain video apa yang mereka suka hingga berapa lama konten yang ideal untuk mereka konsumsi.

Kamu perlu melakukan beberapa trial and error untuk menemukan formula yang cocok. Jadi, pastikan kalau kamu rajin memantau performa video yang kamu buat, dan sering-seringlah bereksperimen dengan ide-ide video yang segar.

Kolaborasi dengan influencer

Konsumen yang berusia muda rata-rata lebih memilih konten yang “tidak dibuat-buat” dan terasa alami. Konten bersponsor yang dikemas secara soft-selling dan seakan-akan direkomendasikan oleh influencer nyatanya terbukti cukup efektif.

Berbeda dengan iklan, influencer mampu mempromosikan produk secara autentik dan lebih personal. Mereka memberikan kesan bahwa sebuah produk itu bagus, dan bisa membangun kepercayaan dengan follower. Sehingga, follower bisa diyakinkan untuk memilih produk tersebut.

Maka tidak heran, jika kini merek-merek besar tidak hanya belanja iklan di media konvensional saja. Mereka mulai merambah ke media sosial dengan menggaet sejumlah influencer, karena pengaruhnya pun lebih besar.

Tawaran untuk mempromosikan merek yang diterima influencer pada tahun ini bisa jadi tidak hanya didominasi merek-merek kelas menengah atau brand baru saja, tapi juga akan berdatangan dari berbagai merek papan atas.

Duet big data dan artificial intelligence (AI)

2017 mengawali tren penggunaan AI dan big data pada sejumlah sektor. Walaupun kebanyakan masih digunakan dalam proses sederhana, namun hal ini membantu menggeser AI dari pasar yang cukup niche menjadi lebih mainstream.

Sejumlah perusahaan besar pada tahun 2018 diprediksi akan meningkatkan investasi di ranah AI. Selain itu, berbagai teknologi yang memanfaatkan data juga akan menjadi lebih matang lagi.

Kini konsumen menyumbangkan data yang berlimpah dari berbagai kanal. Kamu juga bisa mengumpulkan data lewat berbagai cara. Tugas AI adalah mengolah informasi dalam bentuk sangat besar dan kompleks dengan cepat.

Berkat automasi yang dimiliki AI, pemasar bisa lebih leluasa dalam meneliti perilaku konsumen, mencari cara untuk menciptakan konten yang efektif, bahkan membuat customer journey yang lebih personal.

Semakin maraknya adopsi kedua teknologi ini dalam berbagai ranah, bisa memperketat kompetisi dalam menarik konsumen. Apalagi, saat ini konsumen menginginkan konten yang benar-benar sesuai dan memberikan kesan lebih personal.

Tingkatkan engagement lewat chatbot

Layanan konsumen yang baik akan membuat kepercayaan seseorang terhadap brand meningkat. Imbasnya, orang akan setia pada produk atau layanan kamu, bahkan merekomendasikannya ke orang lain.

Chatbot didesain untuk mendukung customer service, dan bisa memberikan informasi dalam waktu singkat. Ketika konsumen membutuhkan akses instan terhadap informasi produk atau menyampaikan komplain, chatbot bisa mengakomodasi hal tersebut.

Pada tahun 2018 ini, kita akan melihat lebih banyak penggunaan chatbot untuk automasi pemasaran. Bahkan, akan lebih banyak lagi industri yang menggunakan chatbot untuk menangani transaksi yang cukup kompleks. Konsumen menginginkan respons yang cepat, jadi sudah saatnya kamu mulai melirik layanan yang satu ini.

Perusahaan besar seperti Amazon bahkan sudah mulai menciptakan layanan chatbot untuk memudahkan komunikasi antara partner B2C Amazon dengan konsumen mereka. Sebuah penelitian juga menyebutkan, keberadaan chatbot dapat meningkatkan engagement dengan konsumen, dan meningkatkan persentase jumlah orang yang membuka informasi tentang suatu kampanye promosi sebesar delapan puluh persen.

Voice search mulai diminati

Google menyebutkan 41 persen orang dewasa dan 55 persen remaja adalah pengguna fitur voice search. Artinya, mereka tidak hanya melakukan pencarian dengan mengetik kata kunci, tapi menggunakan perintah suara.

Sejak fitur voice search dalam bahasa Indonesia diperkenalkan Google pada tahun 2015, mereka menyatakan bahwa pertumbuhan pengguna di Indonesia lebih tinggi lima puluh persen di atas angka pertumbuhan global.

Saat ini konsumen mulai terbiasa dengan interface yang tidak memerlukan input secara fisik. Voice Search memberikan interaksi dengan mesin yang lebih natural, lewat perintah yang seperti percakapan biasa.

Voice search juga membuat proses pencarian lebih cepat. Dalam satu menit, manusia bisa bicara hingga 150 kata, tapi hanya mampu mengetik 40 kata. Fitur ini juga memudahkan akses saat konsumen sedang mengemudi.

Tentunya ini akan memengaruhi cara pemasar untuk berinteraksi dengan konsumen. Kamu perlu membuat konten yang dapat memberikan hasil spesifik dari kata kunci pencarian suara yang dimasukkan oleh konsumen.

Augmented Reality bukan lagi hanya gimmick

Dibandingkan dengan VR atau virtual reality, AR cenderung lebih cepat diadopsi. Salah satu alasannya adalah akses AR lebih mudah karena tidak memerlukan headset seperti VR. Penggunaan AR juga memberikan cara yang unik dan engaging untuk pemasar dalam menjangkau target, karena cepat, mudah, dan interaktif.

AR juga menjadi salah satu cara untuk memberikan user experience yang menyenangkan dan mempersingkat proses pengambilan keputusan.

Salah satu contoh merek yang memanfaatkan AR dengan baik adalah IKEA. Peritel perabot rumah tangga asal Swedia ini meluncurkan aplikasi IKEA Place. Di sini, AR bukan hanya gimmick pemanis merek, tapi dapat juga membantu calon pembeli menentukan pilihan furnitur yang sesuai untuk rumahnya.

Ini bisa menjadi salah satu cara untuk memberikan user experience yang menyenangkan dan mempersingkat proses pengambilan keputusan oleh konsumen. Mereka bisa mengetahui lebih dulu apakah furnitur cocok dan muat di rumah mereka sebelum membeli, jadi tidak perlu lagi khawatir salah ukuran dan harus mengembalikannya.

Memanfaatkan celah dalam micro-moment

Micro-moment adalah sebuah fragmen yang sarat makna dalam proses perjalanan konsumen. Fragmen ini dapat memengaruhi konsumen untuk mengambil keputusan dalam jendela waktu yang sangat singkat.

Momen ini terjadi ketika seseorang secara refleks beralih ke perangkat mobile masing-masing untuk mencari tahu, menonton, atau membeli sesuatu. Google menyebutkan bahwa 82 persen pemilik smartphone menggunakan perangkat mereka saat memerlukan rekomendasi sebelum membeli ketika berbelanja. Satu dari sepuluh pengguna tersebut akhirnya membeli produk yang berbeda dari rencana awal mereka.

Think with Google menyebutkan bahwa setiap harinya, rata-rata konsumen menemui sekitar 150 jenis micro-moment. Di antaranya adalah purchase moment, research moment , dan discovery moment.

Momen tersebut terkadang fokus pada proses riset atau perbandingan produk, sementara yang lainnya lebih mengarah ke pembelian dan harus didukung dengan tawaran menarik dan proses transaksi yang lancar.

Sebagai brand, kamu bisa memanfaatkan micro-moment untuk meningkatkan performa pemasaran dalam mesin pencari. Dengan berada dalam micro-moment dan memberikan sesuatu yang berguna bagi konsumen, kamu bisa menjadikannya alat untuk meningkatkan engagement dan ROI (return on investment).

Setiap tahunnya, selalu ada hal baru yang bisa dieksplorasi oleh para pemasar. Hal ini sebetulnya bisa menjadi pedang bermata dua. Apabila pemain di ranah digital marketing tidak hati-hati, pengguna bisa jadi terkena serangan gempuran iklan alih-alih mendapatkan pengalaman komunikasi merek yang menyenangkan.

Jadi, sebaiknya selalu posisikan diri sebagai pengguna sebelum mulai melancarkan strategi pemasaran agar kamu bisa membayangkan segala kesempatan dan konsekuensi yang akan dihadapi.

1 / 4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini