nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kominfo Segera Revisi Permen yang Mengatur Landing Page

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Kamis 08 Maret 2018 14:50 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2018 03 08 207 1869698 kominfo-segera-revisi-permen-yang-mengatur-landing-page-GWU0CQhcb7.jpg (Foto: Techweez)

JAKARTA - Kasus pemblokiran situs oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) terus disorot para warganet. Kali ini, mereka menyoroti mengenai laman landing page, yang merupakan sebuah situs pengalihan dari sebuah laman yang diblokir.

Hal ini pertama kali disoroti oleh salah satu pengguna Twitter bernama @lantip. Dalam sebuah postingan, dia mengatakan bahwa situs tersebut terdapat banyak iklan, yang tentunya menghadirkan pundi-pundi rupiah bagi para pemiliknya.

Melihat adanya kebingungan ini, Kominfo melalui Direktur Jenderal Aplikasi dan Informatika Kemkominfo Semuel Abrijani Pangerapan memberikan komentar. Pertama-tama, dia menjelaskan jika landing page bukan merupakan wewenang mereka.

“Kami memiliki wewenang meminta ISP (penyedia jasa internet) memblokir DNS sebuah situs. Sedangkan landing page merupakan wewenang ISP,” ujar Semmy kepada awak media di Kantor Kominfo, Rabu (7/3/2018).

Baca juga: Blokir Tumblr Bisa Dicabut Kominfo, Asalkan...

Meski demikian, Semmy pun mengatakan bahwa saat ini Kominfo segera melakukan revisi Peraturan Menteri yang mengatur landing page. “Peraturan Menteri No 19 tahun 2014 (mengenai tata kelola pemblokiran) akan dilakukan revisi,” jelasnya.

Dalam revisi ini, Semmy menjelaskan jika mereka akan mengatur soal isi dari landing page itu sendiri. Pihaknya akan meminta para penyedia jasa internet memberikan 30 persen dari ruang iklan tersebut dialokasikan untuk public service announcement (PSA). “Jadi tidak bisa untuk bisnis saja,” lanjutnya.

Baca juga: Kominfo & Operator Seluler Blokir Tumblr, Ada Apa?

Selain itu, Semmy pun juga mengingatkan kembali kepada pihak penyedia jasa internet untuk lebih ketat dalam memilih iklan yang tampil di laman landing page. Hal ini dilakukan karena banyak laporan masyarakat yang menyebutkan iklan di landing page banyak yang tidak sesuai.

“Lalu iklan-iklannya dibatasi, jangan sampai iklan-iklannya malah menyerempet (ke arah pornografi),” pungkasnya.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini