nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Polisi China Pakai Kacamata AI dengan Teknologi Pengenal Wajah

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Senin 12 Maret 2018 20:02 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 12 57 1871671 polisi-china-pakai-kacamata-ai-dengan-teknologi-pengenal-wajah-ju6ycKdcMl.jpg Ilustrasi Kacamata AI (sumber : mashable.com)

JAKARTA - Polisi di Kota Beijing, China mulai menggunakan kacamata khusus dalam melakukan tugas mereka. Kacamata bertenaga Artificial Intelligence (AI) ini berfungsi mengidentifikasi wajah penumpang dan plat nomor kendaraan dalam waktu milidetik.

Mengutip dari laman Business Insider, Senin (12/3/2018), AI di dalam kacamata ini akan mencocokkan wajah dan plat nomor kendaraan dengan “daftar hitam” yang dimiliki oleh kepolisian setempat. Jika terdeteksi, maka sang polisi akan melihat kotak merah dan tanda peringatan saat pemeriksaan dilakukan.

Kacamata ini sendiri dibuat oleh perusahaan lokal bernama LLVision. Ini merupakan penerapan teknologi kacamata tersebut, setelah beberapa saat yang lalu kacamata ini dipakai oleh para petugas stasiun kereta api di Henan beberapa waktu lalu.

Dikarenakan performa dari kacamata tersebut yang baik dalam mengidentifikasi beberapa orang yang pernah melakukan kejahatan di stasiun, pihak kepolisian terkesan. Setelah melakukan beberapa kali pertemuan, pihak kepolisian pun mulai menggunakan perangkat ini.

Baca Juga : Walah! Facebook Ternyata 'Disusupi' Iklan Palsu, Ini Cara Facebook Menanggulanginya!

Di China sendiri, teknologi penglihatan dan pengenalan wajah terus meningkat. Tak ayal, hingga saat ini ada 170 juta kamera CCTV yang terpasang di seluruh negeri. Namun pemerintah China masih merasa kurang dan menargetkan akan bertambah hingga tiga kali lipat pada 2020.

Dengan jumlah tersebut, membuat hampir satu kamera memantau dua warga. Hal ini dikarenakan Kementerian Keamanan Publik China mengharapkan agar CCTV ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi warga dalam waktu tiga detik saja.

Tentu saja, apa yang dilakukan oleh Pemerintah China ini mendapat kecaman, dikarenakan banyak yang menilai hal ini sebagai pelanggaran hak privasi warga negara. Sementara itu, CEO LLVision Wu Fei mengatakan bahwa kekhawatiran ini tak beralasan.

"Kami mempercayai pemerintah," kata Wu.

Namun, bagi para warga yang tinggal di daerah Xinjiang, hal ini terasa menjadi sebuah pertanda mengenai apa yang bisa dilakukan oleh Pemerintah China. Pasalnya, hampir 50 persen penduduk Xinjiang adalah orang Uyghur, yang merupakan minoritas Muslim etnik.

Baca Juga : Gokil... Kecerdasan Buatan Digunakan untuk Video Musik

Jika Pemerintah China berhasil mencapai target mereka, maka para penduduk Xinjiang akan semakin terpojok. Hal ini dikarenakan sebelumnya, para warga Xinjiang diminta untuk memasang aplikasi pengintai di telefon mereka.

Selain itu, data DNA, data iris, data sidik jari, dan golongan darah dikumpulkan oleh pihak berwajib setempat, bahkan beberapa orang tidak mengetahui hal tersebut telah diambil.

Pada 2016, polisi Xinjiang juga mulai mengumpulkan sampel suara penduduknya. Ini kemungkinan merupakan langkah awal untuk mengumpulkan database suara nasional yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi suara apa pun dalam percakapan telefon yang tercatat.

Populasi sampel China yang besar serta undang-undang privasi yang lemah memungkinkan polisi dan perusahaan swasta untuk mengembangkan teknologi semacam itu dengan sedikit keterbatasan. Hal ini dapat mengubah secara dramatis bagaimana masyarakat China hidup sehari-hari. (chn)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini