Gantikan Lithium-Ion, Peneliti Bikin Baterai Proton Bisa Diisi Ulang

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Selasa 13 Maret 2018 18:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 03 13 56 1872106 gantikan-lithium-ion-peneliti-bikin-baterai-proton-bisa-diisi-ulang-No5zb1zB4H.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Tim peneliti dari Universitas RMIT, Australia menunjukkan alternatif baru dalam membuat baterai yang tahan lama dan lebih ramah lingkungan. Mereka telah membuat sebuah purwarupa baterai peralatan elektronik menggunakan Proton, yang akan menggantikan penggunaan Lithium-Ion.

Dalam sebuah laporan terbaru, baterai yang menggunakan Proton sebagai sumber energi ini terbukti dapat diisi kembali. Tentu saja, hal ini merupakan sebuah terobosan bagus bagi industri baterai di seluruh dunia.

Mengutip dari laman Digital Trends, para peneliti pun menyatakan bahwa mereka membutuhkan waktu setidaknya lima hingga delapan tahun untuk mengembangkan baterai ini. Mereka yakin, baterai dengan inti Proton tersebut dapar bersaing dengan baterai Lithium-Ion.

“Baterai Lithium-Ion memang berfungsi dengan baik, namun material yang digunakan untuk membuat baterai ini sangat mahal,” ujar ketua peneliti John Andrews.

Lebih lanjut Andrew mengatakan jika memang ada alternatif materi inti lain untuk membuat sebuah baterai. Namun dia yakin harganya juga akan jauh lebih mahal. “Teknologi Hidro juga baik, namun harganya sangat mahal,” tambahnya.

Andrew juga mengatakan bahwa jumlah kebutuhan dalam konsumsi energi di dunia akan terus meningkat, terlebih lagi sumber daya yang dapat dibawa kemana-mana. Dia percaya, jika baterai Proton dapat memiliki potensi untuk mengatasi masalah tersebut.

Baca juga: 3 Cara Cek Kesehatan Baterai iPhone

Bahkan dia yakin, tidak menutup kemungkinan jika di masa depan, baterai Proton dapat menggantikan Lithium-Ion.

“Baterai Proton adalah salah satu kontributor potensial untuk memecahkan tingginya tuntutan akan penyimpanan energi. Baterai Proton akan lebih ekonomis daripada Lithium-Ion, yang menggunakan bahan dasar yang berharga mahal,” ujar Andrews.

Baca juga: Kisah Alessandro Volta sang Penemu Batu Baterai

“Karbon yang merupakan bahan utama dalam baterai Proton kami, ada dalam jumlah banyak dan berharga lebih murah jika dibandingkan dengan bahan metal campuran pada penyimpanan hidrogen dan lithium yang digunakan dalam baterai Lithium-Ion,” jelasnya.

Keuntungan lain dari baterai Proton ini adalah karbon yang dipakai sebagai bahan utama tidak akan mudah terbakar atau mengeluarkan asap. Ini berarti dapat menjadi solusi bagi baterai Lithium-Ion yang seringkali terbakar saat tertusuk atau dalam keadaan panas.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini