Eks Pendiri WhatsApp Ajak Netizen Hapus Akun Facebook, Ada Apa?

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Rabu 21 Maret 2018 14:07 WIB
https: img.okezone.com content 2018 03 21 207 1875865 pendiri-whatsapp-imbau-pengguna-agar-beralih-dari-facebook-ada-apa-iPDyUEoWF7.jpg Logo Facebook (sumber :pexels.com)

JAKARTA - Salah satu eks pendiri dari WhatsApp, Brian Acton, mengajak masyarakat dunia untuk menghapus akun Facebook milik mereka. Hal ini dilakukan oleh Acton dikarenakan dalam beberapa hari ini kabar mengenai bocornya data pribadi pengguna Facebok mencuat.

Ajakan ini dia bagikan di dalam akun Twitter pribadinya, yakni @brianacton. Hingga berita ini ditulis, postingan ini sudah dibagikan sebanyak 1.900 kali.

Baca Juga : Facebook Setop Ambil Data Pengguna WhatsApp

“Sudah saatnya,” ujar Acton seperti dikutip dari laman TheVerge. Tak luput juga dia menambahkan tagar #deletefacebook di belakang statusnya.

Saat ini, Acton sudah tidak lagi bekerja pada WhatsApp beberapa saat setelah Facebook mengakuisisi WhatsApp dengan biaya USD16 miliar atau sekira Rp220 miliar pada 2014 silam. Kini, WhatsApp masih dipimpin oleh pendiri WhatsApp lainnya, yakni Jan Koum.

Sayangnya, tidak diketahui apa yang disuarakannya akan merambat ke WhatsApp atau tidak. Pasalnya, Facebook beberapa waktu yang lalu diketahui telah mengambil data para pengguna WhatsApp.

Baca Juga : Kekayaan Bos Facebook Berkurang Rp123,82 Triliun Dalam 2 Hari

Peristiwa kebocoran data pengguna Facebook ini pun menjadi masalah sendiri bagi mereka. Nilai saham mereka dikabarkan turun dengan cukup siginifkan, dikarenakan menurunnya kepercayaan para investor terhadap platform media sosial milik Mark Zuckerberg tersebut.

Pihak Facebook pun berdalih jika mereka tidak ikut andil dalam bocornya data pengguna mereka. Hal ini dikarenakan data ini bocor melalui salah satu pemilik aplikasi yang menggunakan API milik mereka ke pihak lain.

Sekedar informasi, kini Acton tengah fokus ke sebuah aplikasi pesan instan alternatif dari WhatsApp bernama Signal. Dia telah menginvestasikan uang sekira USD50 juta atau sekira Rp670 miliar. (chn)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini