Mengapa Seseorang Memasukan Jari ke Mulut saat Jari Sakit?

Azizah Fitria Nur Chandani, Jurnalis · Kamis 22 Maret 2018 09:31 WIB
https: img.okeinfo.net content 2018 03 21 56 1876003 mengapa-seseorang-memasukan-jari-ke-mulut-saat-jari-sakit-TZjkZiTLaQ.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Jika seseorang menutup pintu dan mengenai jarinya, reaksi pertamanya ialah menghisap jari-jari tersebut atau menggosokkannya ke anggota tubuh lain. Hal seperti itu secara naluriah merupakan perilaku menenangkan diri dan cukup efektif untuk menenangkan rasa sakit sementara ke otak.

Dilansir dari Mentalfloss, perlu diketahui mengapa dan bagaimana hal seperti itu dapat berhasil. Perlu diketahui juga teori dominan tentang bagaimana rasa sakit dikomunikasikan ke dalam tubuh.

Pada abad ke-17, seorang ilmuwan Prancis dan filsuf Rene Descartes mengatakan bahwa ada reseptor rasa sakit tertentu di tubuh yang “membunyikan lonceng di otak” ketika stimulus berinteraksi dengan tubuh. Namun, seorang profesor Neurobiologi mengatakan tidak ada penelitian secara efektif yang mampu mengidentifikasi reseptor mana saja yang merespons rangsangan yang menyakitkan.

Lorne Mendell mengatakan bahwa manusia dapat mengaktifkan serabut saraf tertentu yang bisa menyebabkan rasa sakit, tetapi dalam keadaan lain tidak dapat melakukannya. Dengan kata lain, serabut saraf yang sama dapat membawa rasa sakit, bisa juga membawa sensasi lainnya.

Pada 1965, Patrick Wall dan Ronald Melzack yang merupakan peneliti di MIT mengusulkan apa yang disebut teori kontrol rasa sakit. Mendell yang pada dasarnya berfokus pada neurobiologi rasa sakit bekerjasama dengan para peneliti di MIT tersebut. Ia menjelaskan bahwa penelitiannya menunjukkan bahwa rasa sakit merupakan keseimbangan rangsangan pada berbagai jenis serabut saraf.

Teori kontrol rasa sakit ini disempurnakan pada 1996 ketika Edward Perl menemukan bahwa sel-sel mengandung nociceptors. Nociceptors ini merupakan neuron yang menandakan adanya kerusakan jaringan.

Dari dua tipe utama serat, saraf serat besar akan membawa informasi non-nociceptive dan serat kecil mengirimkan informasi nociptive.

Mendell menjelaskan bahwa dalam studi, stimulasi listrik diterapkan pada saraf, karena arus dinaikkan maka serat pertama yang distimulasi adalah yang terbesar. Seiring intensitas rangsangan yang meningkat, serat lebih kecil akan mencukupi.

Baca juga: Berkenalan Lebih Dekat dengan Teknologi Biometrik

Jadi, mematikan jalan rangsangan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh serat besar dan membuka jalan rangsangan adalah sesuatu yang dihasilkan oleh serat kecil. Kini kembali lagi ke rasa sakit yang dialami, jika langsung menggosokkan jari ke tubuh tandanya sedang merangsang saraf besar untuk menurunkan sinyal rasa sakit.

Baca juga: Sidik Jari untuk Identifikasi Manusia Sejak 1880

Konsep ini nyatanya telah menciptakan “industri besar” untuk mengobati rasa sakit dengan rangsangan listrik ringan. Mendell juga mengatakan dengan tujuan merangsang serabut besar tersebut diharapkan akan menutup jalan pada sinyal rasa sakit dari serat kecil.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini