6 Teknologi di Bidang Eksplorasi Laut

Azizah Fitria Nur Chandani, Jurnalis · Kamis 29 Maret 2018 10:03 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 03 28 56 1879278 6-teknologi-di-bidang-eksplorasi-laut-5C7STvElAO.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Bumi adalah planet samudra memiliki lebih dari 70 persen permukannya ditutupi oleh air laut. Meskipun merupakan bagian penting dari kehidupan, bagian terdalam dari lautan di dunia masih belum dijelajahi.

Menurut American Museum of Natural History di New York, hanya 10 hingga 15 persen dari dasar laut telah dipetakan dengan akurat.

Dilansir dari Mentalfloss, keadaan eksplorasi laut berubah dengan cepat, kondisi gelap dan bertekanan tinggi dari kedalaman laut membuat penelitian tidak mungkin dilakukan.

Berikut ini adalah beberapa teknologi yang ditampilkan dalam pameran American Museum of Natural History yang tujuannya menunjukkan kepada pengunjung betapa sedikitnya yang diketahui mengenai laut.

Fluorescence-Detecting Camera untuk Mencari Ikan Bersinar

Salah satu penemuan terbaru yang dilakukan di bidang eksplorasi laut dalam adalah proliferasi biofluoresensi di bagian paling gelap laut. Alam yang tampak gelap gulita di mata manusia sebenarnya dipenuhi dengan lebih dari 250 spesies ikan bercahaya dalam warna merah, oranye, dan hijau.

Untuk mendeteksi efek ini, para peneliti membangun kamera yang menyaring panjang gelombang cahaya tertentu seperti yang dilakukan mata ikan hiu. Dikombinasikan dengan cahaya biru buatan untuk meningkatkan warna fluorescent, peralatan ini memungkinkan para ilmuwan untuk merekam pertunjukan cahaya.

Echosounder, Speaker dan Microphone

Mendengarkan paus yang bersuara banyak memberi tahu manusia tentang cara mereka hidup dan berinteraksi, tetapi hal ini sulit dilakukan ketika suatu spesies menghabiskan sebagian besar waktunya di laut dalam. Untuk menguping paus paruh, para ilmuwan menyesuaikan peralatan akustik yang canggih ke dalam kapal selam yang dibuat untuk mengeksplorasi lingkungan bertekanan tinggi.

DOR-E dikembangkan oleh ilmuwan kelautan Kelly Benoit-Bird dan timnya di Monterey Bay Aquarium Research Institute. Ini kendaraan bawah air otonom yang dapat mencapai kedalaman hingga 1970 kaki dan memiliki daya tahan baterai yang cukup untuk merekam audio laut dalam. Perangkat ini dinamakan Finding Nemo's Dory.

Baca juga: Sejarah Teknologi Kapal Laut Sejak 10 Ribu Tahun Lalu

Grippers Lunak untuk Kumpulkan Spesimen Laut

Mengumpulkan spesimen di dasar laut tidak sesederhana mengumpulkan di darat. Peneliti tidak dapat melangkah keluar dari submersible untuk mengambil moluska dari dasar laut. Satu-satunya cara untuk mengambil sampel pada kedalaman tersebut adalah dengan mesin.

Baca juga: Teknologi Turbin Jadikan Laut sebagai Sumber Energi Baru di 2025

Ketika mesin-mesin ini dirancang untuk menahan tekanan air yang kuat di sekitar, penelitian dapat berakhir karena hancurnya spesimen sebelum para ilmuwan memiliki kesempatan untuk mempelajarinya. Grippers lunak adalah alternatif cerdas, dengan konstruksi yang licin, mekanismenya cukup kuat untuk bekerja pada kedalaman yang mencapai 1000 kaki.

Aquatic Drone

Kendaraan yang dioperasikan dari jarak jauh (ROV) dapat menjelajahi kantong-kantong laut yang sempit dan hancur yang tidak dapat dijangkau oleh penyelam manusia. Teknologi ini seringkali terbatas pada tim peneliti karena anggaran besar.

Sebuah perusahaan baru bernama OpenROV bertujuan untuk membuat drone bawah air lebih mudah diakses oleh penjelajah sehari-hari.

Pencitraan Satelit

Bagi para ilmuwan untuk mendapatkan pandangan dari dasar laut adalah dengan mengirimkan peralatan ke luar angkasa. Satelit di orbit dapat memperkirakan pengukuran puncak dan lembah yang membentuk dasar laut dengan memancarkan sinyal radar ke arah Bumi dan menghitung waktu yang diperlukan untuk bangkit kembali. Meskipun metode ini tidak memberikan peta dasar laut yang sangat akurat, metode ini dapat digunakan untuk mengukur kedalaman bahkan di daerah yang paling terpencil sekalipun.

Kawanan Robot yang Mengambang Seperti Plankton

Robot bawah laut datang dalam berbagai bentuk dan ukuran. Penjelajah bawah laut atau m-AUEs, yang dikembangkan oleh ahli samudera Scripps Jules Jaffe dimaksudkan untuk dikerahkan dalam kelompok besar.

Perangkat berukuran kecil ini bertindak seperti plankton, terombang-ambing di kedalaman lautan dan mengukur faktor seperti suhu air. Dengan mempelajari penjelajah bawah air para ilmuwan berharap untuk lebih memahami bagaimana plankton, kontributor utama dari oksigen Bumi, berkembang dan melakukan perjalanan melalui laut.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini