Pakar Keamanan Siber: Hapus Aplikasi dan Game Pihak Ketiga di Facebook

Ahmad Luthfi, Jurnalis · Jum'at 06 April 2018 19:03 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 06 207 1883244 pakar-keamanan-siber-hapus-aplikasi-dan-game-pihak-ketiga-di-facebook-PqlAcssktQ.jpg (Foto: Reuters)

JAKARTA - Sekira 87 juta data pengguna Facebook telah diambil dan diolah oleh Cambridge Analytica. Lebih dari satu juga di antaranya adalah data pengguna Facebook Tanah Air.

Fakta ini memunculkan kekhawatiran di Tanah Air, Kominfo sudah melayangkan surat panggilan kepada perwakilan Facebook untuk dimintai keterangan.

Diketahui Facebook tidak hanya mampu mengintip data kontak telefon penggunanya, bahkan juga bisa melihat isi percakapan pada Facebook Messenger. Dengan fakta ini publik kini mempertanyakan sejauh mana keamanan dan jaminan privasi Facebook, apalagi platform lain WhatsApp dan Instagram juga berada di bawah naungan Zuckerberg.

Dalam keterangannya, pakar keamanan siber Pratama Persadha mengatakan bahwa ini saat yang tepat bagi pemerintah untuk bersikap tegas pada Facebook. Menurutnya Facebook sudah melanggar UU ITE dan Kominfo diharapkan bisa bersikap tegas melindungi data masyarakat Tanah Air.

“Facebook telah secara sadar membagi data mereka ke Cambridge Analytica dan satu juta orang data pengguna Tanah Air yang diambil bukan angka yang kecil. Ini adalah fenomena gunung es, saat masyarakat kita banyak menggunakan layanan asing dan datanya disalahgunakan,” terang chairman lembaga riset keamanan siber CISSReC (Communication & Information System Security Research Center) ini.

Isu keamanan data pengguna sudah sejak lama dikritisi. Menurut Pratama pemerintah bisa menggunakan momentum ini untuk mendesak Facebook membuka server di Tanah Air, karena ini sangat erat dengan keamanan data pengguna.

“Sangat terbuka kemungkinan hal ini juga dilakukan aplikasi dan layanan internet lainnya. Karena itu pemerintah harus bekerja keras agar mereka ini bisa mematuhi aturan yang ada di Tanah Air. Membangun server di Tanah Air adalah kewajiban bagi perusahaan teknologi besar seperti facebook dan Google, apalagi mereka memanen begitu banyak data dari masyarakat,” terangnya.

Baca juga: Data 1 Juta Bocor, Facebook Akan Notifikasi Akun yang Jadi Korban Mulai 9 April

Pratama menjelaskan dalam kasus Facebook, sebenarnya pengambilan data dilaksanakan tersistematis. Salah satu pintu masuknya adalah para pengguna Facebook yang menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk bermain kuis maupun game.

Baca juga: Data 1 Juta Pelanggan Bocor, Ini Hasil Pertemuan Menkominfo & Facebook Indonesia

“Seringkali kita temui di Facebook ada aplikasi, kuis dan game. Dari sanalah Cambridge Analytica masuk dan mengambil data. Karena itu setting privasi relatif tidak berguna saat pengguna masih terhubung dengan layanan pihak ketiga di Facebook. Pengguna bisa masuk ke setting dan menghapus semua layanan pihak ketiga tersebut agar lebih aman,” jelas pria asal Cepu Jawa Tengah ini.

(ahl)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini