Data 1 Juta Akun Bocor, Hari Ini DPR Panggil Perwakilan Facebook

Nur Chandra Laksana, Jurnalis · Rabu 11 April 2018 08:18 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 04 10 54 1884824 data-1-juta-akun-bocor-hari-ini-dpr-panggil-perwakilan-facebook-fnlAFCfAs0.jpg Wakil Ketua Komisi I DPR Hanafi Rais (Foto: Nur Chandra/okezone)

JAKARTA - Perwakilan Facebook Indonesia dijadwalkan akan hadir di kantor DPR RI, Rabu (11/4/2018). Alasan pemanggilan ini dikarenakan Komisi I DPR RI penasaran mengenai kasus kebocoran data atas 1,096 juta pengguna Facebook Indonesia.

Wakil Ketua Komisi I DPR RI Hanafi Rais menegaskan, ada beberapa agenda yang akan dilakukan oleh DPR RI hari ini. Pertama adalah memastikan apakah benar data tersebut sudah diolah oleh pihak Cambridge Analictica.

“Kita akan menanyakan apakah data tersebut telah disalahgunakan atau tidak,” ujar Hanafi saat ditemui seusai Rapat Dengar Pendapat Umum dengan Komisi I DPR.

Baca juga: Data 1 Juta Pengguna Facebook Bocor, Kominfo Kerjasama dengan Polri

Dia menjelaskan jika memang data ini belum digunakan, maka sebenarnya tidak ada kerugian apapun mengenai kebocoran data tersebut.

“Ini berarti kan baru bocor ke pihak Cambridge Analictica. Belum ada kerugian,” lanjutnya.

Jika begitu keadaannya, maka DPR RI akan meminta kepada pihak Facebook untuk melindungi data masyarakat yang menjadi korban.

“Kalau bisa di-recovery atau tidak. Kita juga bakal minta ketegasan Facebook untuk melindungi data pengguna Facebook Indonesia,” paparnya.

Meski demikian, jika ditemukan adanya pengolahan data yang dilakukan oleh pihak Cambridge Analictica, DPR RI tidak akan diam. Wakil rakyat itu akan melakukan penyelidikan lanjut terkait masalah ini.

Baca juga: AMSI Dukung Kominfo Usut Kasus Kebocoran Data Facebook

“Kita tanya, apakah Cambride Analictica punya kontrak dengan tukang survei atau pihak yang terkait dengan pemilu di Indonesia misalnya,” jelasnya.

Terakhir, dia menegaskan bahwa Indonesia saat ini tidak punya pilihan lain. Makanya, menurut dia pemblokiran Facebook bukan menjadi pilihan. “Kalau China kan punya alternatif. Makanya kita pertegas ini ada missuse atau tidak,” pungkasnya. (chn)

(kem)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini